Tinggi, Animo Warga Mataram Jadi TKI

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Di tahun 2017 ini, animo warga Kota Mataram bekerja di luar negeri menjadi TKI atau TKW terbilang tinggi. Kondisi ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Mataram, H. M. Syaiful Mukmin, Senin, 15 Mei 2017.

Syaiful mengatakan jika dibandingkan 2016 lalu, jumlah TKI atau TKW yang tercatat di instansinya hanya 367 orang. Namun belakangan ini setiap hari ada saja warga Mataram yang datang meminta surat pengantar untuk mengurus dokumen keberangkatan menjadi TKI atau TKW.

“Cuma yang sekarang ini kami melihat cukup besar animonya. Hampir setiap hari itu saya selalu menandatangani rekomendasi untuk membuat paspor ke PJTKI itu ada tiga, lima. Ini mulai tahun ini. Saya juga sempat tanya ke staf saya apakah ini seperti dulu, tapi sekarang katanya lebih banyak,” paparnya.

Syaiful mengatakan di kantornya juga dipasang informasi pengumuman TKI ke luar negeri seperti Jepang, Malaysia, dan negara-negara lainnya. Hal itu juga mempengaruhi animo masyarakat untuk bekerja di luar negeri.

“Penyalur-penyalur tenaga kerja ini juga sering berkomunikasi dengan saya mohon difasilitasi. Dan kita fasilitasi,” jelasnya. Negara tujuan para TKI ini yaitu Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Sementara tujuan negara Timur Tengah menurutnya jarang karena masih adanya moratorium pengiriman TKI ke negara-negara di jazirah Arab tersebut.

Salah satu faktor yang mendorong warga Mataram bekerja sebagai TKI di luar negeri karena kurangnya ketersediaan lapangan kerja.

“Sempitnya lapangan pekerjaan kita dan tentunya mereka menginginkan lapangan pekerjaan yang cukup menghasilkan yang lebih banyak,” jelasnya. Mantan Kepala BPM Kota Mataram ini mengatakan warga Mataram yang belakangan banyak menjadi TKI rata-rata merupakan tenaga profesional seperti tenaga kesehatan, bukan buruh atau PRT seperti kebanyakan TKI dari NTB.

“Tenaga profesional, minimal dia menguasai Bahasa Inggris, itu wajib. Hampir saya lihat pendidikannya rata-rata sarjana. Walaupun SMA, ada sertifikat keterampilan tenaga kerjanya,” jelasnya. (ynt)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.