Perajin Cukli Sayang-Sayang Banyak Beralih Pekerjaan

Mataram (Suara NTB) – Kelurahan Sayang-Sayang selama ini dikenal sebagai sentra kerajinan cukli. Sekitar kurun waktu 2000-an, banyak berdiri toko kerajinan cukli di wilayah ini. Sebagian besar warga juga bekerja sebagai perajin cukli. Namun dalam beberapa tahun terakhir, usaha ini mulai lesu dan berdampak pada semakin berkurangnya perajin yang semula menggantungkan hidupnya dari kerajinan cukli ini. Demikian disampaikan Lurah Sayang-Sayang, Romi Karmin kepada Suara NTB, Selasa, 9 Mei 2017.

Romi menyebutkan jumlah usaha kerajinan cukli yang tutup cukup banyak. Dan saat ini yang bertahan hanya delapan pengusaha. Salah satu alasan banyak perajin yang beralih pekerjaan karena pasaran produk cukli ini turun. Awal mula lesunya kerajinan cukli ini sejak krisis moneter melanda Indonesia belasan tahun lalu. Kondisi ini semakin diperparah dengan peristiwa bom Bali beberapa tahun setelahnya sehingga sangat berdampak terhadap sektor pariwisata dan berlangsung hingga saat ini. “Menyebabkan pasarannya menjadi turun,” sebutnya.

Baca juga:  Petani Tembakau Terpaksa Banting Harga

Perajin cukli awalnya

terdapat di semua lingkungan di wilayahnya. Namun kini setelah berhenti menjadi perajin cukli, Romi menyebutkan warganya banyak yang kembali menjadi petani. Selain itu ada juga yang menjadi pedagang. Ia mengatakan wisatawan yang datang ke sentra kerajinan di dua lingkungan yaitu Lingkungan Rungkang Jangkuk dan Lingkungan Lendang Re juga jarang. Kebanyakan berasal dari instansi pemerintah yang melakukan kunjungan kerja ke Kota Mataram.

Baca juga:  Motif “Selingkuh” di Atas Kain Tenun Lombok

Romi berharap industri kerajinan cukli di Sayang-Sayang bisa bangkit kembali. Ia pun saat ini sedang menyusun strategi agar sentra kerajinan cukli bisa terus berkembang dan makin dikenal. “Tahun 2000-an Sayang-Sayang terkenal dengan barang seninya, yaitu cukli dan sampai go international. Saya ingin kembalikan Sayang-Sayang seperti dulu yang sangat terkenal,” ujarnya.

Dengan upaya itu ia berharap nantinya Sayang-Sayang dapat dilirik semua pihak. Saat ini menurut Romi, wilayahnya kurang mendapat perhatian. “Tidak seperti Sayang-Sayang yang sekarang, sampai mau roboh kantornya pun tidak dilirik,” demikian Romi Karmin. (ynt)