Penjualan Gerabah Banyumulek Mulai Lancar

Mataram (Suara NTB) – Meski sempat anjlok, penjualan gerabah yang menjadi hasil kerajinan masyarakat di Banyumulek, Lombok Barat, mulai berjalan lancar. Gerabah Lombok yang terbuat dari tanah liat, banyak dibeli oleh turis-turis Malaysia. Para wisatawan dari negeri tetangga kagum dengan proses pembuatan serta motif gerabah yang cantik dan unik.

Lancarnya penjualan gerabah di kawasan tersebut didasari eratnya relasi persahabatan antara perajin dengan guide (pramuwisata). Pengusaha gerabah harus pandai-pandai bergaul dengan guide, sehingga dibawakan tamu sebanyak-banyaknya ke tempat mereka. Jika tidak begitu, pengusaha gerabah akan tetap kesulitan memasarkan produk mereka baik di dalam maupun luar negeri.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai lancar. Ini berkat kerja keras dan dukungan dari teman-teman guide,” tutur Sumiatun, pengelola salah satu pusat produksi dan penjualan gerabah di Banyumulek, Rabu, 22 Maret 2017.

Baca juga:  Perkuat Ekspor Non Tambang, NTB Perkaya Hasil Perikanan Budidaya dengan Teripang dan Kepiting

Pusat penjualan gerabah khas Lombok ini sering menerima pesanan. Motif gerabah yang diproduksi, dijadikan sebagai perabot rumah tangga. Disamping itu, ada pula hasil kerajinan mereka yang sekadar dijadikan pajangan (hiasan). Gerabah yang banyak dibeli turis asal Malaysia, adalah hasil kerajinan yang dapat digunakan sebagai perabot rumah tangga, dalam kehidupan sehari-hari.

Turis-turis yang memborong gerabah mengemukakan, di negara asalnya bukan tidak ada penduduk yang membuat kerajinan macam buatan masyarakat Lombok ini. Ada banyak pusat pembuatan gerabah yang bisa dikunjungi untuk membeli hasil kerajinan tangan berbahan tanah liat. Sayangnya, di negera mereka produsen gerabah hanya memproduksi gentong-gentong berukuran besar serta benda-benda yang hanya diperuntukkan sebagai pot bunga.

“Di Malaysia banyak tempat membuat kerjanan seperti ini. Tapi disana tidak dibuat benda-benda kecil begini. Di sana hanya membuat guci dan wadah-wadah menanam bunga,” tutur Mazlan, salah satu pelancong yang membeli kendi di Banyumulek.

Baca juga:  Perkuat Ekspor Non Tambang, NTB Perkaya Hasil Perikanan Budidaya dengan Teripang dan Kepiting

Ia membeli kendi tersebut lantaran terpesona keunikannya. Selama hidupnya, Mazlan baru kali ini melihat ada kendi yang airnya harus diisi dari bawah. Kendi yang dibeli itu merupakan wadah air minum yang dijuluki ‘Ceret Maling’ oleh masyarakat suku Sasak.

Selain kendi, ada belasan jenis motif gerabah yang diproduksi masyarakat Banyumulek. Gerabah-gerabah yang diproduksi itu langsung dijual pada wisatawan yang berkunjung ke tempat mereka. Disamping itu, pusat oleh-oleh khusus gerabah ini juga siap mengirim produk mereka ke luar negeri sepanjang ada order atau permintaan dari konsumen. (met)