Tenggelamnya Kejayaan Ekspor Gerabah

Mataram (Suara NTB) – Realisasi penjualan gerabah di pasar internasional betul-betul merosot. Pemerintah kucurkan anggaran lebih dari dua miliar untuk menyelamatkan eksistensi gerabah Lombok. Tenggelamnya kejayaan aktifitas ekspor gerabah, membuat para perajin menjadi tidak berdaya.

Masa kejayaan penjualan gerabah Lombok di pasar internasional telah hilang. Hal ini dibuktikan melalui rendahnya nilai ekspor yang dilakukan dari tahun ke tahun. Padahal, pemerintah terus menyuntikkan dana kepada produsen-produsen gerabah.

Era 1990-an, dinilai menjadi masa keemasan aktivitas ekspor gerabah ke luar negeri. Nilai ekspor yang dihasilkan dalam setahun, bisa tercatat mencapai angka jutaan dolar amerika serikat. Kendati, sejak terjadinya peristiwa bom bali pada 2002, nilai penjualan gerabah berangsur surut. Gerabah yang diproduksi masyarakat Lombok, dikirim ke luar negeri melalui Pulau Bali maupun Jawa.

Baca juga:  Niken Zulkieflimansyah Raih Penghargaan Pembina Dekranasda Terbaik Nasional

“Sejak peristiwa bom bali itu, memang nilai ekspor gerabah Lombok benar-benar merosot. Sampai tahun 2016 ini, hanya tersisa satu eksportir yang masih mengirim gerabah ke luar negeri,” kata Racmat Wira Putra, Kepala Seksi Ekspor Bidang Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perdagangan NTB, Jumat, 3 Maret 2017.

Data yang disodorkannya menunjukkan, nilai ekspor gerabah pada 2016 ini hanya mencapai u$ 59.711 dolar.Selama tiga tahun terakhir; sejak 2013 – 2015, total nilai ekspor gerabah hanya mencapai U$ 179.620 dolar. Negara tujuan pengiriman gerabah pada tahun 2016 ini hanya; Amerika, Australia, Kanada dan Italia.

Sejak tahun 2003, pemerintah pusat mengalokasikan dana untuk diberikan sebagai bantuan terhadap para pengerajin. Pemerintah pusat melalui APBN, rutin menyuntikkan dana dari tahun ke tahun sampai 2015. Gayung bersambut, sejak 2016 – 2010, pemerintah daerah menabur APBD lebih dari dua miliar untuk menstimulasi pertumbuhan produksi gerabah. Hasilnya, penjualan gerabah sampai saat ini masih dalam situasi keterpurukan.

Baca juga:  Ekspor Tuna NTB Meningkat Tajam

Pada tahun 2008, pemerintah daerah menyebar dana APBD senilai Rp 1,3 miliar untuk membiayai penguatan pertumbuhan produksi gerabah. Pada tahun 2007, pemerintah juga menyerahkan dana bantuan untuk para pembuat gerabah senilai 450 juta. Dana yang mengalir dari tahun ke tahun itu, diterima masing-masing produsen dengan nominal sebesar Rp 20 juta per unit usaha.

“Untuk saat ini, kita memang sedang fokus melakukan pelatihan dan peningkatan kualitas gerabah yang diproduksi. Ini dalam rangka meningkatkan kembali kegiatan eksport gerabah seperti yang pernah dilakukan, selain kita juga melibatkan para produsen gerabah dalam setiap kegiatan promosi,” ujar Rachmat menandaskan. (met)