Harga Gabah Mulai Turun di Dompu

Advertisement

Dompu (Suara NTB) – Menjelang panen raya padi di Kabupaten Dompu 2017 ini, harga gabah mulai mengalami penurunan. Dari harga normal Rp 3.700 turun menjadi Rp 3.500/Kg. Sementara Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk gabah kering sawah Rp 3.700 /Kg dan gabah kering giling Rp 4.600 /Kg.

Kabid Perdagangan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Dompu, H. Iskandar, mengatakan pihaknya tengah mencari akar persoalan terkait turunnya harga gabah menjelang panen raya ini. “Nah itulah kita mencari jalan keluar dalam arti, apa penyebabnya sehingga harga gabah pas waktu panen di bawah rata-rata HPP,” katanya kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Rabu, 1 Maret 2017.

Iskandar menyebutkan, langkah yang diambil pihaknya untuk menyikapi persoalan tersebut, yakni akan mengevaluasi sistem pengelolaan dana talangan. Indikasi leluasanya para tengkulak mematok harga hasil pertanian dibawah HPP karena sistem penggunaan dana talangan yang tidak efektif. Termasuk upaya lain pihaknya juga menekan biaya Sarana Produksi Padi (Saprodi), mulai dari proses pendistribusian, pengeceran hingga distributor.

Menurunnya harga gabah lanjuta dia, telah membuat sebagian besar petani meringis, sebab biaya produksi yang cukup besar tidak sebanding dengan harga hasil produksinya. “Apabila dana talangan sesuai dengan ketentuan yang ada ini saya yakin petani ndak akan teriak. Selain itu petani juga harus disosialisasikan agar jangan panen terlalu muda,” ujarnya.

Evaluasi sistem yang diimbangi intensitas sosialisasi dinilai tepat menuntaskan persoalan yang selalu dijumpai tiap tahun tersebut. Karena hasil temuan pihaknya di lapangan masih banyak petani yang memanen padi pada usia yang tidak ideal. Itu terlihat dari butiran-butiran padi yang masih hijau dengan kadar hampar yang tinggi. Selain itu penggunaan pupukya juga tidak seimbang. Persoalan ini kata Iskadar, jelas mempengaruhi persentase hasil produksi padi petani, terlebih mengancam petani mengalami kerugian cukup besar. “Panen sebelum umur panen rata-rata, karena kondisi kita di lapangan masih banyak biji-biji yang hijau, kadar hamparnya tinggi jadi tidak semua merata. Ini mempengaruhi hasil produksi apalagi saat harga turun,” jelasnya.

Untuk mematok hasil pertanian per Kabupaten, hal tersebut sangat tidak dibenarkan. Pihaknya harus tetap mengacu pada peraturan pemerintah pusat untuk harga semua komoditi pertanian. Penurunan harga yang hanya kisaran Rp.200 rupiah menurut dia, secara teori petani tidak akan mengalami kerugian, terkecuali hasil produksinya tinggi serta areal lahan yang dikelola luas maka kerugian itu akan dirasakan petani. “Ini yang terjadi saat ini di lapangan. Tapi kita tidak tahu besok lusa bagaimana harganya, karena tiap hari harga ini berubah-ubah,” pungkasnya. (jun)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.