Ini Langkah TPID Kendalikan Kenaikan Harga Komoditas Pangan di NTB

Mataram (suarantb.com) – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB menyepakati beberapa langkah yang akan dilakukan untuk mengendalikan laju inflasi di tahun 2017. Terlebih inflasi komoditas pangan dengan harga bergejolak (volatile food) meningkat  mencapai 1,49 persen (mtm) pada Januari 2017.

“Ini rapat pertama TPID di tahun 2017. Dari hasil rapat ini, kita akan lakukan konsolidasi internal, mengevaluasi program tahun 2016 dan menyusun program kegiatan 2017,” kata Kepala Perwakilan BI NTB, Prijono, usai mengikuti rapat TPID NTB, Selasa, 21  Februari 2017 sore.

Diantara langkah yang akan direalisasikan di tahun 2017 ialah penyusunan neraca pangan, pengaturan tata niaga pangan, akses informasi harga pangan serta pencermatan iklim yang dikeluarkan BMKG.

Dalam hal neraca pangan, penyusunan neraca/data secara bulanan oleh para SKPD terkait sangat dibutuhkan. Terutama para SKPD yang bergerak di bidang produksi yang banyak turun dalam hal pemasaran, perdagangan dan perindustrian.

Selanjutnya, tata niaga pangan perlu diintensifkan dalam mengatur komoditas pangan yang keluar NTB. Terutama karena seringnya hal tersebut menjadi sebab kenaikan harga komoditas pangan di daerah.

Sementara demi mengintegrasikan informasi harga pangan di seluruh pasar di kabupaten/kota seluruh NTB, informasi harga pangan di wilayah Kota Mataram dan Kota Bima saat ini dapat dilihat di www.hargapangan.id.

Dalam upaya pengendalian pasokan, kata prijono, secara teknis dilakukan dengan melakukan berbagai sosialisasi seperti penanaman cabai di luar musim, metode penanaman total organik serta pelatihan pertanian lain yang mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk.

Selama ini, neraca yang disuguhkan para Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait adalah neraca tahunan.

“Kita minta seluruh OPD terkait melaporkan, menganalisis dan membuat prediksi ke depan dalam neraca bulanan, tentang ketersediaan 10 komoditas yang selama ini menjadi penyumbang inflasi,” ujar Kepala Biro Perekonomian Setda NTB, Dr. Manggaukang Raba, MM.

Neraca bulanan sangat diperlukan dalam melihat ketersediaan komoditas antar waktu. Sehingga, semua pihak dapat memproyeksikan ketersediaan komoditas utama dalam beberapa bulan ke depan.

“Data bilang ketersediaan satu tahun itu cukup. Tapi kan belum tentu setiap bulan cukup. Jadi kebutuhan masyarakat dihitung, termasuk juga wisatawan. Dari sana kita bisa lihat surplus defisitnya,”ujarnya.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Wakodim menyatakan dalam upaya melihat proyeksi iklim dan cuaca yang menjadi salah satu faktor kenaikan dan penurunan komoditas pangan, masyarakat khususnya petani dan nelayan diminta untuk mampu membaca data iklim dan cuaca yang disediakan BMKG.

“Paling tidak masyarakat tahu, mana tahun normal, mana El Nino dan La Nina. Dengan memahami pola musim itu saja, sudah banyak membantu sekali,” pungkasnya.  (hvy)