Inflasi NTB Januari 2017 Tertinggi Dalam Tiga Tahun Terakhir

Mataram (suarantb.com) – Bank Indonesia menyatakan tekanan harga di NTB pada Januari 2017 meningkat dengan inflasi mencapai 1,49 persen (mtm). Inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sejumlah 0,63 persen (mtm) maupun inflasi nasional 0,47 persen (mtm). Inflasi tersebut merupakan inflasi Januari yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Salah satu penyumbang inflasi Januari 2017 adalah meningkatnya biaya komoditas yang diatur oleh pemerintah (administratered price). Seperti halnya peningkatan tarif perpanjangan STNK, tarif listrik serta harga rokok.

Jika dilihat dari inflasi volatile food atau komoditas harga yang bergejolak, tekanan harga yang tinggi berasal dari meningkatnya harga komoditas pangan seperti halnya cabai rawit dan tomat sayur. Sedangkan dari komoditas perikanan ialah kenaikan harga ikan bandeng dan ikan selar.

Baca juga:  Harga Tomat Melonjak

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB, Prijono di Mataram, Kamis, 9 Februari 2017. Ia menjelaskan, inflasi volatile food tersebut tidak terlepas dari pengaruh  kondisi cuaca yang buruk, dengan intensitas hujan dan angin yang meningkat setiap harinya.

Hal tersebut menyebabkan produksi tanaman hortikultura menjadi terganggu akibat gagal panen maupun produk yang rusak dan membusuk. Demikian pula dengan terganggunya aktivitas pelayaran yang menyebabkan melambungnya harga komoditas perikanan.

Terkait inflasi Februari 2017, BI  memperkirakan akan  relatif terjaga dibanding Januari. Namun, faktor peningkatan curah hujan masih perlu diwaspadai sebagai faktor yang menyebabkan peningkatan komoditas pangan. Begitu juga dengan pengaruh dari dampak kenaikan tarif listrik di bulan sebelumnya.

Baca juga:  Setelah Maulid, Disdag NTB Antisipasi Lonjakan Harga

Terlebih, sesuai dengan Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan BI  hingga akhir Januari 2017 di beberapa pasar tradisional, masih menunjukan tingginya beberapa komoditas. Seperti cabai merah yang meningkat hingga 54 persen (mtm) dan cabai rawit hingga 74,43 persen  (mtm).

Terkait perkembangan pertumbuhan ekonomi di tahun 2017, Prijono mengaku optimis pertumbuhan ekonomi NTB menigkat  dibanding tahun sebelumnya.

“Saya belum melihat secara triwulanan, tapi kalau secara keseluruhan di tahun 2017,  saya masih cukup yakin ada kenaikan. Meskipun bisa jadi juga kenaikannya tidak terlalu tajam. Tapi prospek peningkatan dari tahun lalu cukup besar,” ujarnya. (hvy)