Pertumbuhan Ekonomi NTB Diproyeksikan 6,5 – 7 Persen

Mataram (Suara NTB) – Tahun 2017 ini pertumbuhan ekonomi diperkirakan di kisaran 6,5 sampai 7 persen tanpa memasukkan konstribusi sektor pertambangan. Meski bencana banjir yang melanda beberapa wilayah berpotensi memperberat penurunan angka kemiskinan.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Prijono meski terjadi babjir, yang terpenting pasokan dan distribusi barang tak terganggu, ekonomi NTB akan tumbuh pada kisaran yang diproyeksikan.
“Kita masih cukup yakin,” katanya optimis.

Pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan Bank Indonesia ini mengalami kenaikan, tetapi tak tajam jika dibanding pertumbuhan ekonomi tahun 2016. Dimana pertumbuhan ekonomi NTB secara kumulatif selama tahun 2016 (c-to-c) sebesar 5,82 persen.

Beberapa faktor pendukung proyeksi kenaikan pertumbuhan ekonomi yang diperhitungkan itu didukung beroperasinya pabrik gula di Dompu, sektor pariwisata terus menggeliat yang memungkinkan tumbuhnya invetasi dengan beberapa rencana pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata.

“Hanya saja konsumsi dan inflasi dapat dikendalikan. Kalau dampak banjir, kami belum melakukan penghitungan khusus. Ekonomi NTB kami melihatnya akan tetap bagus,” imbuhnya.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2017 ini masih lebih baik dibanding proyeksi Bank Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan pada kisaran 5,0 sampai 5,4 persen.

“Pertumbuhan ekonomi kita juga masih lebih baik dibanding pertumbuhan ekonomi dunia yang hanya 3 persen,” jelas Prijono.
Pertumbuhan ekonomi idealnya relevan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat dan tumbuhnya lapangan pekerjaan.

Secara keseluruhan Prijono mengulas pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang tahun 2016 tumbuh 5,82 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Angka pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan angka pertumbuhan sepanjang tahun 2015 21,77 persen (yoy). Perlambatan ini disebabkan oleh ekspor tambang yang menurun signifikan, setelah tumbuh sangat tinggi pada tahun 2015.

Pertumbuhan ekonomi NTB non tambang pada tahun 2016 didorong oleh investasi yang tumbuh tinggi, yaitu 8,17 persen (yoy). Hal ini terkonfirmasi dari kinerja sektor konstruksi yang tumbuh 8,64 persen (yoy) lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 7,27persen (yoy). Sementara itu, konsumsi sepanjang tahun 2016 tumbuh melambat sebesar 1,76 persen (yoy), terendah dalam 6 tahun terakhir. Hal tersebut disebabkan daya beli masyarakat yang melemah, seiring menurunnya pendapatan masyarakat. Terutama yang bekerja di sektor pertanian. (bul)