Petani Kangkung Kewalahan Mengatasi Hama

Giri Menang (Suara NTB) – Petani Kangkung di Lombok Barat mengaku dalam setahun terakhir kesulitan mengatasi hama yang menyerang. Petani hortikultura ini didera kerugian dan hanya bisa bertahan.

Salah satu dari sekian petani yang mulai melakukan penanaman ulang di lahan seluas 30 are di kawasan Bug-Bug, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, kepada Suara NTB, Senin, 16 Januari 2017 menuturkan, potensi air di seputaran Bug – Bug memang melimpah. Ini membuat dirinya dan pemilik lahan lainnya memilih melakukan penanaman komoditas yang membuat NTB naik daun itu.

“Kangkung sekarang penyakitan, semalam habis kuning pucuk, kena nyinyik putek beak (hanya semalam pucuknya menguning, diserang hama),” tutur Nasri.

Akibat hama tersebut, petani kangkung dalam setahun ini kerap merugi. Biasanya untuk bisa dipanen sampai belasan kali untuk satu penanaman, belakangan hanya dipanen di bawah sepuluh kali. Dalam satu petak, menghasilkan 10 ikat besar, di dalamnya terhimpun 250 ikat kecil yang dijual ke pasar dan pedagang-pedagang pengepul. Satu petak untuk biaya penanaman Rp 700.000, belum termasuk biaya-biaya obat-obatan lainnya. Belakangan, satu petaka hasil panenannya turun drastis, hanya dua ikat besar.

Baca juga:  Pupuk Subsidi Minim, Padi Diserang Hama Putih Palsu

“Kalau penyakit hama ulat, tidak sulit membasminya. Kalau nyinyik (hama) macem-macem kita pakai semprot, ndak bisa,” imbuhnya.

Hama dimaksud menyerang sangat cepat, tak sampai berhari-hari kangkung yang tadinya hijau berubah kuning. Semakin disemprot obat, hama tersebut semakin kebal. Di seputaran Bug-Bug, hampir seluruh petani mengeluhkannya.

Baca juga:  Komoditi yang Menjanjikan dan Ditinggalkan

Nasri menyebut sejauh ini belum ada petugas yang memberikan solusi. “Petugas biasanya rutin saat musim padi. Kalau kangkung belum ada kita lihat,” terangnya.

Terpisah, Ketua Koperasi Bina Swadaya Mandiri Lingsar, Lombok Barat, M. Rifa`i juga mengakui persoalan tersebut. Dari seratusan anggota koperasi ini, sebagian di antaranya adalah petani kangkung dan pekerja. Koperasi biasanya menyiapkan saprodi. Dari sanalah informasi tersebut didapat.

Ia mengkhawatirkan dalam waktu tak lama komoditas kangkung akan tergerus. Padahal, kangkung menjadi salah satu jenis kuliner khas Lombok yang berkontribusi mendukung pariwisata NTB.

“Banyak petani kangkung yang sudah mengeluh ke kita, belum ada solusinya,” demikian M. Rifai. (bul)