Pasar Kebon Roek, Pilihan Wisata Belanja Turis Asing

Mataram (suarantb.com) – Di tengah keriuhan transaksi pedagang dan pembeli di Pasar Kebon Roek, Kamis, 5 Januari 2017 siang, tiga wisatawan tampak berdiri di depan sebuah lapak pedagang dan memilih beberapa jenis sayur. Dari tampilan, mereka mudah dikenali karena berbeda dengan warga yang lalu lalang di dalam pasar. Dua turis perempuan mengenakan topi rajut lebar, yang memang kerap digunakan para turis saat berwisata ke pantai.

Transaksi tiga turis asing dengan pedagang tersebut dibantu salah satu warga yang kerap berada di Pasar Kebon Roek. Sugeng menerjemahkan bahasa pedagang tersebut ke dalam Bahasa Inggris saat turis tersebut membeli bawang bombay, sawi, dan beberapa jenis sayur lainnya.

Kepada Suara NTB, Sugeng menuturkan bahwa Pasar Kebon Roek kerap menjadi tujuan wisata belanja turis asing. “Saya sudah sangat sering menemukan wisatawan asing belanja di pasar ini,” katanya. Bahkan menurutnya banyak agen wisata yang memasukkan Pasar Kebon Roek dalam paket wisata kota yang dijual kepada wisatawan.

Hal yang membuat wisatawan asing senang berwisata belanja ke pasar tradisional karena bisa berbaur langsung dengan warga lokal. “Mereka sekalian jalan-jalan dan melihat kehidupan sosial masyarakat di sini,” kata pemasok sayur dan buah ke Gili Trawangan ini.

Ia mengatakan wisatawan senang berinteraksi langsung dengan warga lokal. Mereka juga ingin membuktikan anggapan-anggapan yang pernah didengarnya di luar tentang warga lokal itu salah.

“Banyak juga wisatawan yang saya tanya pendapatnya tentang warga lokal yang ditemui di pasar, dan rata-rata pendapatnya positif,” kata Sugeng.

Wisatawan yang belanja ke pasar tradisional biasanya mereka yang tinggal di vila dan memilih memasak sendiri. “Mereka biasanya sewa vila dan memilih masak sendiri dan langsung belanja ke pasar,” sambungnya. Turis asing yang kerap ia temui di Pasar Kebon Roek berasal dari Australia, Prancis, dan Jepang.

Karena sering didatangi wisatawan asing, ia berharap sampah di Pasar Kebon Roek dapat ditangani dengan baik. “Kalau menurut saya sih sampahnya ini yang perlu ditangani lebih baik,” ujarnya.

Jika kondisinya bersih dapat terbangun citra positif di mata wisatawan dan mereka betah berbelanja. Menurut Sugeng, perilaku pedagang kepada wisatawan juga cukup positif. Ia tidak pernah menemukan pedagang yang menaikkan harga dengan sangat tinggi jika yang berbelanja wisatawan asing.

“Pedagang kita tidak menaikkan harga sampai puluhan ribu kalau turis yang belanja. Kalau seribu dua ribu sih menurut saya masih wajar,” ujarnya. (ynt)