Ratusan Nelayan Mataram Migrasi ke Senggigi

Mataram (Suara NTB) – Memasuki musim angin barat, ratusan nelayan pesisir Mataram bermigrasi ke Senggigi. Karena ombak di perairan pinggir laut Senggigi dinilai tak terlalu tinggi dibanding di pesisir Kota Mataram. Dengan berpindahnya para nelayan ini ke Senggigi, mereka bisa tetap melaut.

“Rata-rata nelayan di sini pindah ke Senggigi. Di sana ndak ada gelombang dan nelayan tetap bisa melaut. Kalau dari sini, kita ndak bisa pergi melaut,” jelas nelayan Lingkungan Bugis, Kelurahan Bintaro, Fauzi kepada Suara NTB.

Fauzi mengatakan hampir sebulan ia tak melaut karena gelombang yang cukup tinggi. Akibatnya ia terpaksa menganggur untuk sementara sembari memperbaiki perahu atau jaring. Ia mengatakan tak hanya nelayan di lingkungannya yang pindah ke Senggigi, tapi hampir semua nelayan yang ada di sepanjang pesisir Kota Mataram.

“Di Lingkungan Pondok Prasi juga banyak. Kalau yang dari Lingkungan Bugis ini sekitar 50 orang. Coba datang ke Senggigi itu, banyak perahu nelayan dari sini yang parkir,” jelasnya. Ia sendiri berencana untuk memindahkan perahunya ke Senggigi supaya tetap bisa melaut. Namun Fauzi masih menunggu gelombang mereda baru kemudian ia akan pindah ke Senggigi. “Kalau sekarang ini bagaimana mau pindah, ombaknya besar begini,” ujarnya.

Angin kencang dan gelombang tinggi seperti ini biasanya terjadi selama tiga bulan. Untuk menopang biaya hidup, para nelayan disebutkan Fauzi biasanya menjual barang-barang atau perabot rumah tangga. Ia tidak berani memaksanakan tetap melaut karena risikonya cukup tinggi.

Nelayan lainnya, Maswan juga menyampaikan telah hampir sebulan tak pergi menjaring ikan ke laut. Kendati demikian ia tetap menanti ombak sedikit mereda, baru kemudian ia akan menurunkan jangkar dan pergi melaut. “Tapi kalau ombaknya tetap besar, ndak jadi melaut,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, ia terpaksa berhutang di koperasi keliling yang meminjamkan uang kepada warga. “Terpaksa berhutang di ‘bank’ keliling kalau ndak ada kita pakai belanja,” pungkasnya. (ynt)