Menikmati Belanda, Melintasi Belgia dan Mimpi Paris

Pilihan menjajal daratan Eropa dengan menggunakan kendaraan bus memang sangat melelahkan. Tetapi saya bersyukur dengan pilihan tersebut. Setidaknya, saya mempunyai lebih banyak pengalaman dibandingkan jika saya harus menggunakan pesawat. Misalnya, perjalanan saya dari Perancis menuju Jerman dan Belanda. Waktu yang saya tempuh sangat panjang. Jika digabung bisa mencapai  18 jam. Maksudnya, dari Perancis ke Jerman 9 jam dan dari Jerman ke Belanda 9 jam juga.

NAMUN berkat perjalanan panjang dengan menggunakan bus tersebut, saya bisa merasakan dan ‘’menikmati’’ suasana perjalanan dengan melewati ‘’perkampungan’’ di Eropa. Saya bisa melihat hamparan ladang di Swiss misalnya, dengan tanamannya yang belum dipanen. Saya bisa melihat Eropa yang dituruni salju karena kebetulan musim dingin dan suasana peternakan di beberapa tempat sepanjang perjalanan menapaki negara-negara di daratan Eropa.

Yang tidak kalah mengesankan, saya juga bisa melihat bagaimana negara-negara di Eropa begitu kreatif memanfaatkan sumber alamnya. Seperti memanfaatkan angin, matahari dan aliran sungai sebagai sumber energi. Pembangkit listrik tenaga angin,  dibangun dalam bentuk turbin. Seperti yang saya amati di sepanjang perjalanan dari Belanda menuju Perancis (Paris). Turbin dioperasikan di lahan khusus (seperti ‘’ladang angin’’). Selain ramah lingkungan, sumber energi ini juga selalu tersedia setiap waktu dan memiliki masa depan bisnis yang menguntungkan. Indonesia sebagai negara dengan sumber alam berlimpah, tidak salah juga jika mangambil contoh dari negera-negara yang sudah maju.

Bagi saya, menjajal Eropa melalui perjalanan darat,  benar-benar memperkaya pengalaman saya. Saya bisa mengetahui batas-batas negara di Eropa. Termasuk saya bisa “merasakan” denyut kehidupan di Belgia. Karena ketika kami melakukan perjalanan dari Belanda menuju Paris, Perancis, bus yang kami tumpangi melewati Belgia. Melintas wilayah Antwerpen, Belgia sekitar pukul 10.20 waktu setempat dan kami sempat beristirahat beberapa saat di sebuah rest area. Negara ini berbatasan dengan tiga negara perdagangan yang penting yaitu Perancis, Belanda dan Jerman.

Seperti cerita di negara-negara lain yang sudah saya datangi di Eropa.  Di Eropa barat sudah mulai musim dingin dan salju turun. Setelah menempuh perjalanan selama 9 jam, saya dan rombongan BPPT memasuki wilayah Belanda. Negeri kincir angin ini, bagi saya adalah negara yang mengingatkan saya tentang banyak hal. Terutama tentang perjalanan bangsa kita. Kita pernah dijajah Belanda ratusan tahun. Namun di negeri Pangeran Oranye Willem-Alexander  ini, saya juga merasakan ‘’rasa Indonesia’’ yang kental. Setidaknya dalam urusan makanan.

Saya dan rombongan menginap di Mercure Hotel di pinggir Kota Amsterdam. Untuk mencari makanan khas Indonesia di negeri ini sangat mudah. Tak jauh dari tempat kami menginap, ada ‘’Rumah Makan Melati’’,  sebuah restoran yang menyediakan makanan khas Indonesia. Ketika saya berjalan-jalan ke Amsterdam, restoran khas

Indonesia juga dengan mudah ditemukan. Di Amsterdam saya sempat singgah di Restoran Indonesia. Gaby (23), seorang pelayan yang sudah lama bekerja di restoran itu berasal dari Bogor. Gadis ayu ini dengan ramah melayani pengunjung yang kebanyakan warga Indonesia dengan Bahasa Indonesia logat Belanda. Gaby lahir dari ayah keturunan Belanda dan ibu asal Bogor.  Gaby menetap di Belanda bersama ayahnya. Sementara ibunya tetap tinggal di Bogor.

Saya dan rombongan tiba di pusat Kota Amsterdam sekitar pukul 10.30  waktu setempat. Bangunan di Amsterdam didominasi bangunan-bangunan kuno yang berdiri kokoh dan megah seperti kastil. Seakan tidak ada bangunan bergaya modern di pusat kota itu. Pagi menjelang siang, langit Amsterdam mendung. Cuaca dingin disertai  angin kencang dan gerimis seakan menusuk tulang. Menjelang siang, pusat Kota Amsterdam sangat sibuk. Semakin sore kian padat orang-orang berkumpul di Dam Square yang berada di jantung Kota Amsterdam.

Dam Square merupakan alun-alun kota yang berada di pusat Kota Amsterdam. Dam Square menjadi salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi. Alun-alun kota ini juga merupakan salah satu pusat berkumpul dan tempat kongkow-kongkow  warga setempat dan wisatawan yang berkunjung ke Amsterdam. Di alun-alun ini juga kerap dijadikan tempat pertunjukan atau event-event tertentu. Saat saya berada di Dam Square, di tempat itu sedang berlangsung pertunjukkan musik.

Di alun-alun ini saya juga bisa menjumpai dan bermain-main dengan burung merpati jinak di sana. Berbekal sepotong roti, burung merpati mengerubuti tangan saya sambil berebut makanan. Merpati-merpati di Dam Square ini, juga saya temukan di kebanyakan alun-alun di Eropa seperti Milan (Italia) dan Jerman.

Kian sore Dam Square kian padat pengunjung. Tujuannya,  tidak saja datang ke alun-alun itu. Dam Square dikelilingi destinasi lain yang tak kalah hebatnya. Tak jauh dari alun-alun ini ada pabrik pengasahan berlian. Kemudian Gereja Nieuwe Kerk, sebuah gereja tua yang juga menjadi destinasi wisata. Objek wisata manarik lainnya adalah Museum Madame Tussauds yang sangat terkenal. Sore menjelang malam, saya melihat antrean panjang di depan pintu masuk museum itu. Untuk bisa masuk ke museum yang mengoleksi patung lilin tokoh-tokoh terkenal dunia,  setiap pengunjung harus membayar sebesar 23 euro ( sekitar Rp 345 ribu).

Amsterdam juga memanjakan wisatawan yang datang ke kota itu dengan paket city tour.  Dengan membayar 25 euro (sekitar Rp 375 ribu), kita bisa menyaksikan paket wisata kota yang komplit di sana.

Sehari menginap di Belanda, kami melanjutkan perjalanan ke Paris, Perancis. Datang ke Paris merupakan impian saya. Kota Paris merupakan tujun terakhir rombongan kami untuk selanjutnya kembali ke Indonesia. Namun sebelum kembali ke Indonesia, saya berkesempatan menjajal 10 destinasi wisata terkenal di kota mode itu. ***

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.