BPPT Tandatangani Kerjasama dengan INES

Perancis (Suara NTB) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) RI menandatangani kerjasama atau MoU (Memorandum of Understanding) dengan Institut National de L’Energie Solaire (INES) Perancis, Senin, 7 November 2016. Penandatanganan MoU dilakukan antara Dr. Anis Jouini, Head of Solar Energy Department, INES dengan pihak BPPT yang diwakili Gatot Dwianto.

BPPT menjalin kerjasama dengan INES Perancis, dalam rangka mendukung pengembangan industri energi baru dan terbarukan. Penandatanganan kerjasama disaksikan, Anggota DPR RI Muhtar Tompo, Agus Puji Prasetyono (Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas). Kemudian Ngakan Timur Antara (Staf Ahli Menteri Bidang Penguatan Struktur Industri Kementerian Perdagangan). Asep Riswoko (dari BPPT), Nandang Suhendra (dari BPPT yang juga Ketua Rombongan).

Hadir juga dalam penandatangan kerjasama itu, Wisnu Sardjono Soenarso (dari Kemenristekdikti). Atang Sulaeman (BPPT),  Dudi Iskandar (BPPT), Aris Darmansyah Edisaputra (BPPT), Suratna (BPPT), Suhendar I Sachoemar (BPPT), Ardi Matutu (BPPT) dan Shinta Pariama Simanjuntak (BPPT).

Dr. Anis Jouini, Head of Solar Energy Department, INES dalam pengantarnya mengatakan, INES adalah Lembaga Litbang terkemuka di Perancis dengan beberapa kantor cabang di beberapa negara. Dalam menjalankan aktivitas litbang, INES dibantu pemerintah dan pihak swasta. Sekitar 30 persen untuk belanja rutin  dibantu pemerintah Perancis. Kemudian 30 persen lagi bersumber dari kegiatan litbang dengan instansi pemerintah atau swasta dan 37 persen sisanya diperoleh dari kontrak kerjasama dengan industri.

Sebagai lembaga litbang yang memfokuskan keahliannya di bidang photovoltaics (PV), INES didukung oleh 500 tenaga peneliti dengan berbagai bidang keahlian mulai dari hulu value chain material silika, ingot, sel, modul sampai sistem integrasi (hilir). Dengan kemampuan seperti itu, INES sudah bisa menguasi teknologi dari hulu hingga hilir di bidang industri PV. Dengan kata lain mereka sudah bisa memberikan layanan putar kunci untuk industri PV mulai dari hulu hingga ke sistem power plan.

Ngakan Timur Antara, Staf Ahli Menteri Bidang Penguatan Struktur Industri Kementerian Perdagangan yang dikonfirmasi terkait keberadaan INES melihat bahwa sistem kerja dan pendanaan INES, sebagai institusi riset di Indonesia dan seluruh institusi riset yang ada di Kementerian Perindustrian pada dasarnya sama dengan mereka. Baik yang berbentuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) maupun Badan Layanan Umum (BLU). Dalam pengelolaan dana PNBP, dana yang diperoleh harus disetor ke kas negara dan penggunaaan dana tersebut dapat dicairkan berdasarkan program kegiatan yang telah ditetapkan. Sedangkan dalam sistem BLU dana yang diperoleh dari hasil kerjasama dapat dipergunakan langsung tanpa menyetor terlebih dahulu ke kas negara.

‘’Suatu hal menarik yang dapat dipelajari dari INES adalah cara mereka memperoleh tenaga kerja. Utamanya peneliti dan cara mereka dalam menjalin hubungan dengan dunia industri,’’ kata Timur Antara. Hal ini terjadi karena integritas yang tinggi dari personel baik dalam meningkatkan kemampuan mereka maupun dalam memberikan pelayanan. Keseriusan dalam meningkatkan kapasitas serta konsistensi kebijakan pemerintah dan pimpinan lembaga membuat kemampuan SDM di bidang PV bisa mencapai reputasi yang baik dan hal ini merupakan poin positif di mata pelanggan.

Di samping hubungan baik selalu dijaga terhadap industri yang diberikan pelayanan teknis, INES juga memiliki mitra yang mampu memproduksi peralatan proses dalam rantai pasokan PV. Hal inilah yang mempercepat kemampuan INES dalam memberikan pelayanan putar kunci pada industri PV. Mitra industri yang dimaksud dalam hal ini salah satunya adalah Enginering Construction And Mechanics (ECM).

Anggota Komisi VII DPR RI, Mukhtar Tompo yang merupakan mitra kerja BPPT, berpandangan bahwa kerjasama internasional antar organisasi atau lembaga di bidang teknologi material merupakan salah satu strategi untuk penguatan sumber daya manusia, yang perlu ditunjang pendanaan beserta sarana prasarananya.

“Saya menyambut baik kerjasama antara BPPT dan INES dalam bidang pengembangan energi baru dan terbarukan,” terang Mukhtar. Ia mencontohkan salah satu produk teknologi solar cell yang bisa dimanfaatkan di Indonesia, yaitu Kotak Baterai berukuran kecil, namun memiliki kapasitas 2500 KW.

Meski ukurannya kecil, namun mampu dimanfaatkan oleh sekitar 2500 rumah, jika tiap rumah 900 Watt. ‘’Sangat cocok untuk daerah terpencil, di daerah pinggiran dan pulau terluar. Hal ini yang mesti dikembangkan, agar PLN tidak terbebani dengan target,“ urai anggota Fraksi Partai Hanura ini. (049)