Melangkah di Eropa (1)

Menjejaki Tujuh Negara, Melewati Tujuh Terowongan Perancis-Italia

Kop MElangkah Eropa

Mimpi keliling Eropa bisa jadi mimpi banyak orang. Saya patut bersyukur, atas undangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)  RI, saya berkesempatan melangkahkan kaki di beberapa negara di Eropa. Salah satu agenda penting BPPT di Eropa adalah menandatangani kesepakatan bersama dengan Institut Nasional de I’energie Solaire (INES) Perancis untuk  mendukung pengembangan industri energi baru dan terbarukan. Setidaknya tujuh negara saya jejaki,  Perancis, Italia, Swiss, Jerman, Belanda serta melintasi Turki dan Belgia.  Perjalanan saya ke Eropa cukup panjang, lebih kurang 2 minggu, 2-16 November.  Saya terbang dari Jakarta, Rabu malam (2/11) menuju Perancis. Penerbangan Jakarta- Perancis cukup melelahkan.

Raka Akriyani

Wartawan Suara NTB, Raka Akriyani ketika berada di Kota Milan

MENGGUNAKAN Turkies Airlines dengan nomor penerbangan TK 0057,  saya terbang selama 12 jam nonstop menuju Bandara Internasional Istanbul Turki. Di Turki, saya bersama 16 orang dari tim BPPT, Kemenristek Dikti, Kementerian Perindustrian dan anggota DPR RI yang dipimpin Dr. Nandang Suhendra, transit selama 6 jam sebelum terbang ke Perancis. Setelah transit 6 jam di salah satu bandara tersibuk di dunia, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Perancis  menggunakan pesawat Turkies Airlines dengan nomor penerbangan TK 1807. Penerbangan Turki-Perancis memakan waktu sekitar 4 jam. Pesawat yang membawa kami menuju Perancis mendarat dengan mulus di Bandara Gare De Lyon Saint Exupery, salah satu bandara  yang berada di Kota Lyon, Perancis.

Cuaca dingin yang membuat saya menggigil menyambut kami di Kota Lyon.  Suhu Lyon  saat itu sekitar 9 derajat celcius. Bibir saya bergetar. Dingin menyergap seluruh tubuh. Jaket yang saya gunakan untuk membungkus tubuh seperti tidak bisa mengalahkan cuaca dingin. Mungkin karena tubuh saya belum beradaptasi dengan suhu rendah.

Namun cuaca dingin tak sanggup mengalahkan “kehangatan” perasaan dan pikiran saya tentang negara-negara yang akan saya kunjungi selama di Eropa. Termasuk tentang Menara Eiffel di Paris. Menara yang sangat romantis, apalagi kalau kita berada di sekitarnya menjelang malam hari. Paris sebagai kota mode di dunia merupakan kota dengan segala mimpi. Kota dengan “gengsinya” sendiri untuk dikunjungi. Sehingga, setiap wisatawan yang melawat ke Perancis, mungkin jarang yang tidak mendatangi Menara Eiffel. Menara yang sangat terkenal di dunia dan menjadi ikon Perancis, khususnya Kota Paris.

Tiba di Bandara Gare De Lyon Saint Exupery, saya dan rombongan disambut petugas dari  INES. Dari bandara kami menuju sebuah hotel di pinggiran Perancis, Mercure Hotel. Hotel ini berlokasi di jantung Kota Lyon dengan penduduk yang cukup padat. Warga Lyon menempati apartemen-apartemen dengan bangunan tua yang kokoh.

Sehari setelah saya tiba di Lyon, salju tipis mulai jatuh membasahi bumi kota kecil dan asri itu. Pagi itu,  langit kota Lyon tampak mendung. Saya sedikit menggigil. Cuaca dingin terasa menusuk tulang. Warga Kota Lyon menyambut turunnya salju pertama di bulan November dengan suka cita. Ini salju pertama yang turun dan pertanda musim dingin (salju) segera tiba. ‘’Suhu hari ini (ketika salju pertama turun), baru 0 derajat. Biasanya kalau sudah musim dingin di bawah 0 derajat,’’ ujar Paty, salah seorang petugas INES yang memandu rombongan kami.

Kendati cuaca dingin menusuk tulang, warga Lyon tetap beraktivitas seperti biasa. Mengenakan jaket tebal dilengkapi topi penghangat kepala, langkah-langkah mereka melaju gesit.  Bahkan langkahnya cenderung setengah berlari. Langkah-langkah cepat itu tak sekadar melawan dingin yang menggigit tubuh mereka. Tetapi itulah kebiasaan warga Perancis yang energik.

Dari Perancis saya melanjutkan perjalanan ke Italia.Tepatnya, menuju Kota Milan. Menumpang bus, saya dan rombongan melintasi perbatasan disajikan pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Di sepanjang lintas Perancis menuju Italia, membentang gugusan gunung berbatu yang puncaknya mulai terlihat memutih diselimuti salju. Pepohonan dengan daun beraneka warna mulai berguguran menyambut musim dingin.  Di kaki gunung itu, tertata rapi pemukiman warga. Mereka bercocok tanam dan beternak. Domba-domba dan sapi perah tampak dilepas di areal penggembalaan. Sementara gandum telah dipanen sebagai persiapan menghadapi musim dingin.

Menuju Italia, kami harus melewati tujuh terowongan (jalan bawah tanah). Lalu lintas melalui terowongan ini sangat padat. Rata-rata 6000 kendaraan melintas setiap hari di tujuh terowongan ini. Setiap kendaraan besar yang melintas harus membayar 250 euro dan kendaraan kecil dikenakan tarif 45 euro. Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam, kami tiba di Milan, Italia.

Di kota ini, tim BPPT menggelar rapat-rapat persiapan penandatangan kesepakatan dengan INES. Usai rapat digelar, saya dan rombongan melepas penat di pusat Kota Milan. Kota mode di Italia ini sangat terkenal dengan kastil-kastil tua yang menjadi ciri khasnya. Kebetulan, ketika saya berada di Milan, bertepatan dengan malam minggu.

Saya dan rombongan sengaja menikmati malam minggu di pusat berbelanjaan di Milan. Cuaca malam itu, sama ketika saya berada di Perancis, dingin. Namun cuaca dingin dan lelah  setelah menempuh perjanan panjang dengan bus serta melewati tujuh terowongan dari Lyon menuju Milan seperti lenyap. Saya tidak merasa lelah.

Di sekitar area kastil tersedia pusat perbelanjaan yang sangat lengkap. Barang-barang branded dengan harga selangit seperti tas, sepatu, jam tangan dan berbagai aksesoris tersedia di sana. Tapi jangan kecewa dulu. Masih di areal pusat perbelajaan itu, juga dijual aksesoris dengan model yang sama dengan harga miring dijajakan pedagang kaki lima (seperti di Indonesia).

Setelah berkeliling di pusat perbelanjaan Milan, restoran-restoran telah siap mengobati rasa lapar dengan makanan dan minuman penghangat tubuh. Sepotong pizza harganya 5 euro dan segelas capucino dengan harga 3 euro.  Sebagai ‘’ibu kota’’ pizza, Italia memang bisa memanjakan lidah penikmat pizza yang datang ke negara itu.

Selama di Milan, saya juga mendatangi stadion sepak bola yang menjadi kebanggaan negara tersebut, Inter Milan dan AC Milan. Di sekitar stadion dijual berbagai pernak pernik klub-klub hebat dan nama para pemainnya. Mungkin sama dengan kebanyakan negara-negara lain yang memiliki klub sepak bola terkenal di dunia. Masyarakat Milan sangat bangga. Bahkan fanatik dengan klub sepak bola yang dimilikinya.***