Potret Kemiskinan di Destinasi Wisata Pantai Mawun

Praya (Suara NTB) – Perkembangan pariwisata di NTB digadang-gadang menjadi salah satu kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya. Hanya saja, hal itu tidak berlaku bagi sebagian masyarakat di sekitar destinasi wisata Pantai Mawun. Tidak sedikit dari mereka merupakan masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sebab tidak mampu memanfaatkan destinasi wisata itu sebagai peluang untuk mendapatkan penghasilan, dikarenakan pengetahuan tentang kepariwisataan yang masih minim.

Ramsiah (43) warga Desa Tumpak Kecamatan Pujut setiap hari bekerja sebagai nelayan di Pantai Mawun. Ia hanya mampu melakukan itu karena tidak memiliki pengetahuan lebih tantang pariwisata, terutama tentang cara berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara.

“Kita tidak bisa Bahasa Inggris, jadi tidak bisa komunikasi dengan bule. Tidak punya bekal juga untuk kerja di bidang pariwisata, jadi sehari-hari hanya cari ikan,” ujarnya kepada Suara NTB, di Pujut, Jumat (21/10).

Baca juga:  Catatan Lobar di 2019, Penurunan Kemiskinan Melambat Akibat Kinerja OPD ‘’Kendor’’

Ramsiah menetap di sebuah gubuk kecil yang dibangun 20 meter dari bibir Pantai Mawun. Rumah beratapkan seng dan berdinding gedek seluas 4×5 meter itu menjadi tempat yang paling mewah untuknya bersama isteri dan ketiga anaknya. Tidak ada barang mewah dan istimewa di dalam rumahnya. Hanya ada perabotan rumah tangga seadanya dan beberapa alat untuk menangkap ikan.

Tidak jarang ia harus merasakan kekhawatiran apabila angin kencang menerpa rumahnya. Sebab hanya rumah sederhana itulah harta satu-satunya yang ia miliki. Ia jug mengaku selama ini tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Daerah (Pemda). Tidak jarang pula ia harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ketika cuaca tidak mendukung untuk mencari ikan di laut.

“Kadang ngutang, nanti kalau sudah dapat jual ikan baru dibayar. Kadang gali lubang tutup lubang, tidak pernah bisa menabung. Apalagi untuk bangun rumah, anak-anak saya juga tidak ada yang sekolah tinggi,” tandasnya.

Baca juga:  Perbaiki Pemukiman Warga, Percepat Penurunan Kemiskinan

Pantai Mawun selalu ramai didatangi oleh wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara. Namun ramainya wisatawan itu tidak memengaruhi pendapatannya, apalagi ekonominya. Ia tetap hidup sederhana tanpa tambahan pendapatan dari sektor lain, selain menjadi nelayan.

Ramsiah mengaku meskipun tinggal dan berada di sekitar destinasi wisata, namun tidak pernah dilibatkan dalam urusan kepariwisataan. Hal itu membuatnya tidak pernah memiliki kesempatan untuk menambah pendapatan dari sektor itu.

“Sekolah saja tidak tamat SD. Kalau keinginan (kerja di pariwisata) itu pasti ada, tapi tidak bisa karena tidak mengerti caranya,” kata Ramsiah.

Ramsiah berharap ia dan anaknya dapat terlibat dalam sektor pariwisata, terutama di Pantai Mawun. Sehingga bisa menambah pendapatannya dan dapat keluar dari garis kemiskinan. Sebab pendapatannya sebagai nelayan tidak menentu, terlebih apabila cuaca buruk. (lin)