Bendungan Pandanduri Ditutup Berpotensi Rugikan Petani

Selong (Suara NTB) – Bendungan Pandanduri merupakan salah satu bendungan di NTB yang airnya sudah mengalami penyusutan akibat kemarau panjang. Kondisi itupun membuat pemerintah mengambil sikap dengan menutup sementara bendungan. Namun, dengan ditutupnya Bendungan Pandanduri menyebabkan petani rugi, karena tidak bisa mengairi tanamannya.

Pantauan Suara NTB di beberapa wilayah yang merupakan bagian yang diairi Bendungan Pandanduri saat ini sudah cukup memprihatinkan. Beberapa lahan pertanian, seperti di Kecamatan Keruak, Sakra Barat, Sakra Timur dan terlebih di Jerowaru hampir semua lahan pertanian mengering. Ironisnya lagi, tanah pada lahan pertanian tersebut mengalami keretakan dan masyarakat yang menanam padi terancam gagal panen atau puso.

Selain kualitas tanaman pada masyarakat layu dan kering akibat kekurangan air. Kondisi itu juga berpengaruh terhadap tumbuhnya rumput-rumput liar pada lahan masyarakat, sehingga membuat lahan pertanian masyarakat seolah-olah tak bertuan. “Sudah lama kering tidak ada air yang mengalir ke sini. Jadi kita biarkan saja lahan itu, jika kita garap malah membuat kerugian baik fisik maupun materil,” ujar Supardi salah satu masyarakat di Kecamatan Keruak.

Terpisah, Kepala Desa Pare Mas Kacamatan Jerowaru, Sahman menyebutkan jika tahun 2016 ini sebanyak 90 persen petani padi di wilayahnya mengalami gagal panen dengan areal tanam seluas sekitar 500 hektar dengan 300 hektar untuk padi dan 200 hektar untuk jagung dan tembakau. “Dari luas itu  yang berhasil hanya 10 persen,”ujarnya pada Suara NTB, Kamis, 15 September 2016.

Bahkan, katanya, keberadaan Bendungan Pandanduri sejak dibangun sampai saat ini belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di Desa Pare Mas Kecamatan Jerowaru. Untuk itu, ia sangat mendukung jika bendungan tersebut ditutup sementara agar tidak menimbulkan polemik bagi masyarakat (petani) baik yang berada di daerah hulu maupun hilir. (yon)