Mandor Pasar, Para Pejuang PAD yang Terabaikan

Mataram (suarantb.com) – Pasar tradisional merupakan sektor pendapatan asli daerah (PAD) yang cukup subur. Sebab aktivitas di pasar tradisional melibatkan kalangan masyarakat, dari kalangan ekonomi atas hingga menengah ke bawah. Demikian disampaikan oleh Kepala Pasar Kebon Roek, Roos Hariadi.

PAD dari Pasar Kebon Roek berkisar antara Rp 800 ribu – Rp 900 ribu per hari. Dalam satu bulan, PAD yang terhimpun mencapai Rp 25 juta. Pendapatan ini belum termasuk dari biaya sewa bangunan bulanan. Dari sewa lokasi di bangunan pasar tradisional pemasukannya mencapai Rp 4,8 juta lebih sebulan.

Pendapatan ini tak lepas dari usaha para petugas pasar mulai dari kepala pasar, tukang pungut setoran, petugas kebersihan dan keamanan pasar. Menurut Roos, tugas dan tanggung jawab petugas pasar bukan merupakan hal yang mudah. Pasar adalah tempat berkumpulnya masyarakat dengan berbagai karakter dan kepentingan. Tidak mudah menertibkan sekian ratus orang yang memanfaatkan pasar, terutama para pedagang dan pembeli.

“Petugas kita hanya sekian orang, untuk menertibkan ratusan bahkan ribuan orang di pasar ini. Jelas nggak gampang,” ungkapnya kepada suarantb.com.

Terutama soal kebersihan dan ketertiban pasar, Roos mengakui begitu sulit untuk dapat mengatur para pedagang dengan latar belakang pendidikan yang kadang hanya lulusan sekolah dasar, bahkan beberapa tidak pernah melalui pendidikan formal. Memberikan pemahaman kepada mereka menurutnya memerlukan usaha yang tidak sedikit.

Baca juga:  Catat, Pemkot Mataram Janjikan PAD Rp415 Miliar di 2020

Pihak pasar juga kerap memberikan penyuluhan kepada para pedagang sebagai upaya menertibkan mereka. Namun demikian, banyak yang tidak ambil pusing dan membebankan tanggung jawab hanya kepada para petugas pasar saja.

Masalah kebersihan, keamanan dan kenyamanan, hingga tanggung jawab dibebankan kepada Pemkot Mataram dalam hal ini diemban oleh petugas pasar, terutama mandor, atau yang lebih dikenal dengan sebutan kepala pasar.

“Petugas pasar, terutama kepala pasar. Tidak pernah mengenal kata libur dan jam istirahat. Dua puluh empat jam kita senantiasa siaga untuk menjaga amanat pemerintah di pasar ini,” ungkapnya.

Mandor bertanggung jawab atas aset daerah di pasar, serta bertanggung jawab menjaga barang para pedagang, baik di waktu pasar beroperasi ataupun setelah tutup. “Jika ada kejadian seperti kemalingan, kepala pasar harus siap mengurus meskipun kejadiannya tengah malam,” tambahnya. Keteledoran sedikit saja, mandor atau kepala pasar harus siap menerima teguran bahkan ancaman kehilangan jabatan dari atasannya.

Baca juga:  Catat, Pemkot Mataram Janjikan PAD Rp415 Miliar di 2020

Namun demikian, upah yang didapatkan oleh kepala pasar tak sebesar tanggung jawab yang dipikulnya. Bahkan kurang dari UMP. Bahkan menurut Roos, pendapatannya tidak sebesar upah yang diterima oleh petugas kebersihan dan keamanan pasar. Mereka mendapat upah tetap sebesar Rp 1,2 juta per bulan. Sementara kepala pasar hanya mendapat upah insentif sebesar 30 persen dari PAD yang diperoleh di pasar, itupun dibagi bersama sepuluh tukang pungut setoran yang dibawahinya.

“Upah insentif yang 30 persen itu kita bagi sepuluh. Jika kita dapat Rp 3 juta, berarti sama-sama Rp 300 ribu per 15 hari,” ungkapnya.

Sementara jika para tukang pungut melakukan pungutan liar kepada para pedagang, maka kepala pasarlah yang harus mempertanggugjawabkannya. “Pedagang dan pemerintah tahunya itu tanggung jawab kepala pasar, jika terjadi penyelewengan oleh anak buah. Maka kepala pasar lah yang disalahkan,” keluhnya. (rdi)