NTP Perikanan Budidaya Anjlok

Mataram (Suara NTB)
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB merilis Nilai Tukar Petani (NTP) terakhir Provinsi NTB, NTP Perikanan Budidaya paling anjlok di 89,39. Salah satu pemicunya karena makin mahalnya harga pakan pabrikan.
Minimnya pendapatan petani perikanan budaya ini diakui juga Ketua Kelompok Buidaya Ikan “Moga Mandiri”, Hairil Anwar Aik Bukak, Lombok Tengah. Saat ini harga pakan Rp 295/zak (30 Kg). harga ini terus mengalami kenaikan dari sebelum-sebelumnya yang hanya Rp 200.000/zak.
Ia mengkoordinir 25 orang anggota. Sekurangnya ada 1 hektar petak kolam ikan budidaya yang dikelola. Satu petak ukuran 1 are, menghabiskan berkuintal-kuintal pakan hingga panen. Masa panen idealnya empat bulan jika rutin menggunakan pakan pabrikan.
Pada ukuran benih ikan nila, biasanya satu petak berukuran 1 are dengan pakan satu zak habis dalam waktu sebulan. Jika telah berukuran besar, satu zak maksimal habis dua hari. Pemberikan pakan secara rutin tiga kali sehari. “Mahal kalau mengandalkan pakan pabrikan. Ada sih untung tapi sangat kecil,” katanya dihubungi Suara NTB, Jumat (1/7).
Petani perikanan tak sanggup jika mengandalkan hanya pakan pabrikan, kelompok ini kemudian menyiasatinya dengan pemberikan pakan dedak. “Biasanya siang kita gunakan dedak, baru malam dan paginya gunakan pakan pabrikan. Itu untuk menyiasati mahalnya harga pakan pabrikan,” demikian Hairil Anwar. Sementara harga jual sekilo hanya Rp 20.000-an.
Ia menyebut mungkin

karena pabrik pakannya dari luar daerah, sehingga lebih mahal. Akan beda ceritanya jika pabrik pakan ada di dalam daerah.
Kepala BPS Provinsi NTB, Drs. Wahyudin menyampaikan rilis terakhir, bahwa penghitungan NTP menggunakan tahun dasar 2012=100 di mana pada bulan Juni 2016 tercatat NTP Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 103,66, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 94,37.
Selanjutnya Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 94,47, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 116,59 dan Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) 100,78. Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) dirinci menjadi NTP Perikanan Tangkap (NTN) tercatat 107,85 dan NTP Perikanan Budidaya (NTPi) tercatat 89,39 paling rendah.
Secara gabungan, NTP Provinsi NTB sebesar 104,14 yang berarti NTP bulan Juni 2016 mengalami peningkatan 0,32 persen bila dibandingkan dengan bulan Mei2016 dengan NTP sebesar 103,81.
Wahyudin mengatakan, rendahnya NTPi disbanding NTP lainnya lebih dikarenakan pendapatan yang tidak sebanding dengan pengeluaran. NTB dibatasi 100. Artinya jika NTB diatas itu berarti untung, sebaliknya jika NTB dibawah 100 berarti pengeluaran tidak sebanding dengan pendapatan.
“Kenapa nilai tukar perikanan budidaya cukup rendah, biasanya karena pakan pabrik mahal. Biaya yang dikeluarkan termasuk biaya-biaya sandang pangan petaninya tidak sebanding dengan yang didapat dari hasil membudidaya,” demikian Wahyudin.
Berbeda halnya dengan perikanan tangkap, nelayan hanya butuh biaya untuk penangkapan di laut. Berbeda halnya dengan ikan yang dibudidayakan harus dipelihara dan pemberian pakan harus secara rutin. (bul)