Pemasok Jeroan Lokal Menjerit

Mataram (suarantb.com) – Para pemasok jeroan lokal merasa risau dengan kebijakan pemerintah yang mengimpor jeroan dari luar negeri. Mereka khawatir kebijakan ini akan membuat situasi ekonomi mereka semakin terjepit.

“Kami tidak punya pekerjaan lain, semua keluarga, anak, dan orang tua adalah jagal sapi, jadi jangan sampai pemerintah masukkan jeroan dari luar negeri.”

Demikian jeritan penjual jeroan sapi di Kebon Roek asal Gubuk Mamben Sekarbela, Ibu Yuli. Ia menitipkan pesan untuk pemerintah untuk tidak memasukkan jeroan sapi ke tempatnya berjualan. Karna nanti dikhawatirkan jeroan miliknya akan tidak laku oleh banyaknya jeroan dari luar.

“Janganlah pemerintah memasukkan jeroan dari luar, kalau daging masih bisa kita terima, tapi kalau jeroan jangan karena nanti banyak yang akan terbuang sia sia,” katanya.

Yuli mengungkapkan alasan kenapa ia tidak setuju dengan keputusan pemeritah itu. Yuli mengatakan bahwa jika daging boleh saja di Impor akan tetapi untuk jeroan ia tidak setuju, karena jeroan lebih gampang rusak dan turun harga.

“Kalau sudah satu hari dibiarkan itu akan rusak sedangkan kalau dua hari sudah keluar ulat, sementara jika dimasak terlalu banyak, jadi alternatifnya ya dibuang,” pungkasnya.

Yuli dan penjual jeroan lain saat dimintai tanggapan mengenai jeroan yang akan masuk ke Indonesia mengaku kerap kali rugi dengan jeroan lokal. “Kita kan beli sedangkan kalau tidak habis turunkan harga dari Rp 25.000 ke Rp 20.000, setelah dua hari tidak laku ya dibuang, itu sudah resiko,” katanya.

Ia lantas membandingkan dengan jeroan impor, pastinya akan mengalami hal yang sama. “Percuma, lebih baik dagingnya saja,” katanya sambil tersenyum.

Menurut pengalamannya pada saat maulid lalu, ada beratus ratus kilogram jeroan sapi yang terpaksa dibuang karena tidak laku. Yuli mengatakan salah satu penyebabnya juga adalah pelanggan yang cerewet.

“Jangankan jeroan, dagingnya saja kalau sudah di es, pasti ndak akan dibeli. Orang Lombok dengan orang Jawa beda, orang Lombok itu cerewet, jualan kita harus terlihat segar,” ungkap Yuli, Kamis, 21 Juli 2016.

Yuli mengaku sampai saat ini tidak ada jeroan luar yang masuk, ia berharap tidak ada karna menyangkut pekerjaannya dan teman teman lain yang berjualan di pasar Kebon Roek. (Ism)