Ikan Berformalin, Diduga Dipasok dari Luar Daerah

Mataram (suarantb.com)– Empat dari lima sampel ikan berformalin yang ditemukan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram bersama SKPD terkait  di pasar Kebon Roek, diduga berasal dari pengepul ikan dari luar Kota Mataram. Ikan berformalin itu diduga dibawa para pengepul ikan dari daerah Jawa, Sumbawa, Tanjung Luar Lombok Timur dan Batulayar Lombok Barat.

Salah seorang pedagang ikan di pasar Kebon Roek Kota Mataram, Ma’iah (50) mengatakan dirinya sempat mendengar perihal ikan dari pengepul luar daerah diberi obat-obatan alias bahan berbahaya. Hal tersebut dilakukan pengepul untuk menjaga ikan agar tetap terlihat segar.

Wanita asli Lombok Tengah ini  mengatakan, informasi tersebut ia peroleh dari rekan sesama penjual ikan di pasar Kebon Roek. “Belum tentu ikan itu hanya dikasi es, tapi juga obat. Karna dikirim dari jauh, kita tidak tahu, tapi itu kata teman-teman,” ujarnya ketika dikonfirmasi suarantb.com.

Pengiriman ikan dari luar Kota Mataram, katanya, dilakukan berdasarkan pemesanan dari pengepul ikan di pasar Kebon Roek. Pemesanan tersebut dilakukan ketika stok ikan di dalam daerah terbatas.

“Ngambilnya dari hasil nelepon ke Jawa, Sumbawa, Tanjung luar, ” ujar Ma’iah ketika sedang menjual ikan hasil tangkapan suaminya di pasar Kebon Roek.

Ia mengatakan, dengan masuknya ikan dari luar daerah, nelayan di Kota Mataram dan sekitarnya  ikut berkurang pendapatannya. Selain kalah dari sisi kuantitas, ikan dari luar daerah dijual dengan harga cukup rendah dari harga yang dipatok nelayan daerah setempat.

Ia mencontohkan, ikan kembung, yang diduga mengandung formalin. Oleh pengepul ikan dari luar Kota Mataram menjual ikan kembung dengan harga Rp 20.000 perkilogram, dan dijual eceran seharga Rp 25.000 perkilogram. Sedang ikan kembung hasil  tangkapan nelayan di Kota Mataram dan sekitarnya dijual dengan harga Rp 40.000 perkilogram dan eceran sebesar Rp 45.000 perkilogram.

Tidak hanya ikan kembung dan tongkol yang diduga ditambahkan obat-obat berbahaya seperti formalin. Ia mensinyalir, hasil laut seperti  udang dan cumi juga ditambahkan  obat obatan berbahaya. “Cumi juga banyak yang (didatangkan) dari luar. Coba udang, kalau tidak dikasi apa-apa (obat berbahaya), sehari saja sudah langsung merah,” bebernya. (ism)