Peran Makelar Ternak di NTB Dipangkas

SUARANTB.com – Mataram, Sentra Peternakan Rakyat (SPR) telah terbentuk pada 2015 lalu, berdasarkan SK Kementerian Pertanian. Perannya mengambil alih, sekaligus memotong mata rantai makelar ternak yang demikian panjang.

Khusus di Provinsi NTB, telah terbentuk tiga SPR. Di Lombok Timur, Sumbawa dan Dompu. Mata rantai makelar ternak ini, berdampak pada banyak hal, antara lain mahalnya harga ternak, hingga mahalnya harga daging.

Manajer SPR Rido Ilahi di Lombok Timur, Tarmizi, SPR menjadi wadah bagi peternak maupun pengusaha yang ingin melakukan transaksi jual beli ternak. Di Lombok Timur, SPR Rido Ilahi misalnya, telah memiliki anggota sebanyak 752 orang peternak dari tujuh desa. Desa Bebidas, Wanasaba, Wanasaba Lauk, Wanasaba Daya, Beriri Jarak, Karang Baru dan Karang Baru Timur. Dan terus akan diperluas.

Baca juga:  Warga Tolak Proyek Irigasi Tetes

“SPR jadi fasilitator peternak penjual dengan peternak atau pengusaha pembeli. Tidak lagi melalui mata rantai makelar. Sebab karena mata rantai inilah harga ternak menjadi mahal,” demikian dikatakan pada Suara NTB di Mataram, Sabtu (25/6).

Tidak terbatas pada aktivitas transaksi itu, Tarmizi mengatakan, setiap ternak yang diperjual belikan bahkan dicek kesehatannya. Untuk pembelian ternak induk, petugas SPR merekomendasikan mana

indukan yang berpotensi bunting dan tidaknya.

Untuk pengembangan pemasaran, petugas SPR sedang menjajaki kerjasama dengan rumah-rumah potong hewan (RPH). Para pengusaha dan pejagal cukup memesan ternak-ternak yang diminta, selanjutnya difasilitasi.

Adakah program konkret SPR untuk menekan harga daging di provinsi sejuta sapi ini? Tarmizi mengatakan, hal itu salah satu yang menjadi prioritas. Caranya, SPR memprogramkan pengembangan ternak kepada anggotanya.

Baca juga:  Warga Tolak Proyek Irigasi Tetes

Diketahui, saat ini satu peternak tradisonal hanya mampu beternak sapi misalnya sampai dua ekor. Kedepan, satu peternak harus mampu beternak minimal sepuluh ekor. Caranya, karena kendala peternak tradisional ini pada pakan, anggota SPR dilatih teknologi pemanfaatan bahan baku yang tersedia di alam sebagai ternak.

SPR Rido Ilahi saat ini sedang mempersiapkan seribu indukan unggulan. Seribu indukan yang tersebar di masing-masing anggota ini dimonitoring secara berkelanjutan. Dari kesehatannya, hingga perkembangan reproduksinya.

“Petugas mengawasi terus mana indukan yang telah siap bunting. Disiapkan inseminasi buatan untuk menghasilkan anakan bibit unggulan. Dengan pengelolaan seperti ini, minimal satu tahun satu indukan satu anak. Peningkatan populasi seperti ini banyak dampaknya, salah satunya terhadap harga daging,” demikian Tarmizi. (bul)