Ekonomi Harus Bergerak, Tapi Masyarakat Wajib Disiplin

Awanadhi Aswinabawa (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dibukanya kembali sejumlah destinasi wisata di NTB diakui mendesak dilakukan. Terutama untuk menggerakkan kembali ekonomi masyarakat yang bergerak di bidang tersebut. Namun penerapan protokol kesehatan tetap harus menjadi perhatian bersama.

‘’Mau tidak mau ekonomi harus bergerak. Cuma tentu saja yang perlu kita terus dorong supaya masyarakat dan lainnya bisa disiplin. Lebih komitmen lagi untuk melaksanakan protokol new normal (kenormalan baru) itu yang sebenarnya sangat sederhana. Pakai masker, cuci tangan, jaga jarak,” ujar Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (Gipi) NTB, Awanadhi Aswinabawa dikonfirmasi, Minggu, 12 Juli 2020.

Iklan

Diterangkan, dibukanya kembali destinasi wisata saat ini dapat dipahami sebagai reaksi masyarakat terhadap situasi saat ini. Khususnya untuk menanggulangi dampak ekonomi dari pandemi virus Corona (Covid-19) dengan perlahan membuka usaha.

Untuk mengantisipasi peningkatan penularan virus dari aktivitas pariwisata yang dibuka kembali tersebut, beberapa langkah telah direkomendasikan pemerintah. Rekomendasi protokol tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian bersama pelaku usaha dan wisatawan untuk menyesuaikan diri dengan situasi saat ini.

Dicontohkan seperti peluncuran program InDonesia CARE oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI sebagai dukungan kebangkitan pariwisata dalam negeri. Di mana program tersebut mengedepankan pemenuhan aspek kebersihan, kesehatan, dan keselamatan sebagai prioritas di masing-masing destinasi wisata.

Selain itu, protokol yang direkomendasikan adalah memberikan pelayanan pariwisata tanpa kontak sentuh. Khususnya untuk menjamin keselamatan bersama dengan mematuhi protokol kesehatan.

‘’Tentu di masing-masing daerah pemegang otoritas tempat komunikasi dan industrinya mesti kerja sama, mesti disiplin, komitmen penuh untuk menjalankan protokol new normal ini semaksimal mungkin,’’ ujar Awan.

Menurutnya, penerapan protokol tersebut dapat dilihat dari spektrum yang lebih luas. Diantaranya dari sisi pemasaran. Di mana akses menuju pasar wisatawan mancanegara sangat terbatas sehingga satu-satunya pasar yang bisa digarar adalah wistawan domestik baik di luar daerah maupun di dalam daerah.

  Wisata di Perbukitan Sembalun Masih Tutup

“Artinya bahwa kita di NTB ini, coba kita harus menggalakan bagaimana terjadi pergerakan-pergerakan yang turis lokal. Misalnya ke Sekotong, Trawangan, Senggigi dan sebagainya,” ujar Awan. Dengan begitu, pergerakan ekonomi yang diharapkan bisa terjadi.

Di sisi lain, dengan fokus menggarap wisatawan domestik dalam daerah upaya penerapan protokol kesehatan diproyeksikan dapat dilakukan lebih maksimal. “Dengan melakukan pergerakan turis lokal di sini itu, kita juga bisa melatih industri kita menjadi bisa lebih fasih lagi melaksanakan atau mengimplementasikan produk-produk new normal tadi itu,” jelas Awan.

Hal tersebut dinilai dapat tercapai dengan membangun semangat bersama untuk menanggulangi dampak pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

“New normal dalam tanda kutip itu musti saling membantu dan saling berdedikasi, bahwa barang kali saja produk kita tidak sebagus kualitas produk lokal misalnya, tapi kita juga harus memberdayakan ekonomi lokal kita. Biar mahal sedikit, biar kalah bagus sedikit, tapi kita mesti saling support (mendukung),” ujar Awan.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, H.Lalu Moh. Faozal, S.Sos.M.Si menerangkan, pembukaan kembali destinasi wisata di NTB cukup mendesak dilakukan. Pasalnya, kondisi sektor pariwisata di NTB diprediksi tidak dapat bertahan lebih lama lagi menghadapi dampak pandemi virus corona (Covid-19) yang sedang berlangsung.

Cash flow (keuangan) teman-teman kita di industri pariwisat bisa bertahan sampai satu bulan kedepan kira-kira. Artinya, teman-teman pelaku pariwisata sedang betul-betul terdampak oleh covid ini,” ujar Faozal.

Kendati demikian, pembukaan masing-masing destinasi disebutnya akan mengedepankan protokol penanganan Covid-19. Diantaranya untuk memenuhi standar cleanliness, health, and safety (CHS) yang direkomendasikan oleh pemerintah pusat.

Diterangkan, Dispar NTB telah mengirimkan rekomendasi protokol pembukaan destinasi wisata berbasis CHS ke masing-masing kabupaten/kota. Di mana proses pembukaan diminta melewati tahap evaluasi kesiapan sesuai SOP yang diusulkan tersebut, dengan melakukan pendalaman usulan dari satgas penanganan Covid-19 di masing-masing daerah.

  Terkendala Reagen dan Cartridge, Mesin TCM RSUD Tripat Tak Bisa Digunakan Periksa Swab

“Pendalamnnya diusulkan ke gugus tugas (masing-masing daerah), apakah destinasi bisa dibuka atau perlu ada catatan-catatan lagi,” jelas Faozal. Menurutnya, protokol penanganan Covid-19 harus menjadi yang paling utama dalam tata kelola destinasi pariwisata NTB kedepan. Kendati masih ada beberapa kendala, hal tersebut diharapkan dapat menemukan solusi dengan SOP yang telah disusun. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here