Eko Janji Lakukan Penataan Birokrasi

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram akan melantik Ir. H. Effendi Eko Saswito sebagai Sekretaris Daerah Kota Mataram, Rabu, 7 September 2016. Pelantikan dipastikan setelah Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menyetujui rekomendasi yang diusulkan Walikota Mataram.

Perjuangan Eko sehingga mendapatkan kepercayaan menjadi Sekda tidaklah mudah. Tangan dingin dan kerja kerasnya mengantarkan dia lolos dalam proses seleksi penjaringan pimpinan jabatan tinggi pratama Sekda Kota Mataram Agustus lalu. Proses penjaringan ini membutuhkan konsentrasi dan energi. Sebab, tahapan – tahapan harus dilewati hingga mengungguli tiga orang rekan lainnya.

Iklan

Karier suami dari Hj. Baiq Herlina Udayani ini diawali sejak tahun 1991. Eko waktu itu jadi calon pegawai negeri sipil di Dinas Perkebunan NTB. Lalu diangkat menjadi PNS satu tahun kemudian atau 1992 melalui SK Kementerian. Pengalaman serta pergaulan cukup luas di tahun 1997 – 1999, ayah satu orang anak ini sempat menjadi Anggota Legislatif. Berkarier selama dua tahun di legislatif, akhirnya cukup memberikan bekal tentang tata kelola pemerintahan yang baik, fungsi legislasi, anggaran dan lain sebagainya.

Namun demikian, ayah dari Kartika Dwi Jayanti ini, lantas memutuskan untuk kembali menjadi PNS. “Saat itu masa reformasi. Kalau meniti karier di legislatif, kita harus mengundurkan diri jadi pegawai negeri. Karena kembali jadi pegawai negeri dibolehkan, saya melepaskan partai politik,” kata Eko di ruang kerjanya, Senin, 5 September 2016.

Karena melihat pengalaman serta kemampuan manajerialnya, tahun 2000, ia ditarik ke Pemkot Mataram menjadi staf di Dinas Tatakota. Eko kala itu, memang bukan siapa – siapa. Ketekunan, kedisiplinan serta menjalankan tugas sesuai perintah pimpinan selalu jadi pedoman. Buktinya, tahun 2001 ia diangkat menjadi kepala seksi dekorasi kota pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan kota Mataram. Kemudian menjadi Kasubdin Pertamanan pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan di tahun yang sama.

Berkat prestasi dan semangatnya bekerjanya, di tahun 2002 diangkat menjadi Kepala Kantor Pertamanan Kota Mataram. Jejak karier Eko terbilang cepat. Ini tidak lain karena didukung dengan prestasi dan inovasinya membangun Kota Mataram. Tiga tahun kemudian, Walikota Mataram mengangkatnya menjadi Asisten Administrasi dan satu tahun menjadi menjadi Asisten Ekonomi dan Pembangunan tahun 2006 hingga 2016.

10 tahun menjadi Asisten bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Mataram serta jejak karier begitu panjang di SKPD, membuatnya kaya dengan pengalaman. Tak ayal, Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh mempercayainya mengatur manajemen Kota dengan harapan mengantarkan Kota Mataram sebagai sentral perekonomian di NTB.

Eko mengingat betul pengalamannya saat dipercaya menjadi Kasi Pertamanan. Kepercayaan utama dengan mengedepankan ketekunan dalam melaksanakan tugas pokok pimpinan adalah kunci untuk menjalankan tugas. Dalam upaya meniti kariernya. Paling berat dirasakan kala itu dilibatkan melakukan penataan kota. Ia ingat betul pada saat itu, PAD Kota Mataram masih sangat minim yang berkisar Rp 4,5 miliar tahun 2000.

Bagi ukuran ibukota Provinsi, angka ini sangat kecil. Oleh karena itu, bagaimana ia membuat kesan positif bahwa Kota Mataram  suasana perkotaan yang aman. Upaya ini dilakukan, bagaimana memberikan penerangan jalan umum. PJU ini sebagai prasyarat menciptakan wilayah kondusif, karena itu modal dasar meningkatkan pencitraan melalui PJU. “Dulu mataram gelap. Jalan Pejanggik, Udayana dan Langko ini hanya satu dua lampu. Kemudian, Pak Walikota mengajak kita  belajar ke Surabaya menggunakan mobil,” tuturnya.

Dengan kondisi serba terbatas membuatnya harus berpikir keras. Terpaksa dia meminta tiang listrik bekas ke Telkom hanya untuk menciptakan Kota Mataram lebih terang. Modifikasi dilakukan supaya penerangan optimal. Salah satunya, membuat ornamen di jalan Langko dan Pejanggik dengan cara memanjang. Dia tidak pernah berbicara dari sisi kualitas, tapi berbicara soal pemerataan. Meskipun kondisi begitu, dia merasa sangat susah mencari vendor untuk memasang reklame.

“Dulu susah sekali nyari vendor yang mau buat neon box. Akhirnya, kita pasang di Udayana baru vendor berlomba – lomba pasang iklan. Pemkot Mataram dapat PAD dari reklame,” paparnya.

Diamanahkan menjadi orang nomor satu di lingkup ASN Kota Mataram, bukan berarti dia harus bangga dan mengedepankan ego sektoralnya. Eko menganggap ini adalah pekerjaan dan tantangan berat karena akan melayani ribuan ASN dengan berbagai dinamika. Pasca dilantik nanti, dia akan mencoba melakukan tata kelola pemerintah yang baik. Salah satunya, belajar ke daerah lain yang lebih maju dalam proses pengelolaan anggaran. Kota Mataram nantinya akan mengadopsi e-budgeting. Artinya, itu akan menunjang proses transparansi sehingga mengurangi potensi yang mengarah penyalahgunaan kewenangan.

Dalam proses ini, tidak bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu, tentu pejabat harus  kompak menjadi satu kesatuan di birokrasi dalam rangka mendukung pelaksanaan visi – misi walikota. “Tentu kita harus solid,” tegasnya.

Selain itu, pemerataan penempatan SDM harus disesuaikan dengan kualifikasi dan kompetensinya. Walaupun pada akhirnya mendistribusikan SDM dilakukan secara proporsional di SKPD, sehingga tidak ada penumpukan karyawan yang dilihat dari rasio kebutuhan.

Eko beruntung memiliki keluarga, istri dan anak yang terus mendukungnya dalam berbagai hal. Bentuk dukungan keluarganya adalah dengan tidak membebaninya. “Keluarga adalah segala – galanya bagi saya. Rasa syukur saya kepada orangtua. Bagaimana juga saya tidak bisa bekerja dan berkarya tanpa dukungan keluarga,” jawabnya.

Prinsip bahwa menduduki jabatan tinggi akan banyak tantangan, sudah diketahui oleh Eko. Yang terpenting baginya, melaksanakan amanah dengan baik. Dia tak memungkiri orang akan berpandangan berbeda tentang dirinya, tapi hal itu dianggap wajar. Yang jelas, dia akan berusaha melaksanakan tugas sebaik – baiknya. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here