Dunia Seni Berduka, Pendiri Orkes Pelita Harapan dan SLB Al Mahsyar Berpulang

Abdullah Mahsyar alias Al Mahsyar. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – NTB kembali kehilangan salah satu tokoh inspiratifnya. Pendiri Sekolah Luar Biasa (SLB) A Yayasan Penyandang Tuna Netra (YPTN) Al-Mahsyar sekaligus pendiri kelompok musik Pelita Harapan, Abdullah Mahsyar, meninggal dunia pada Minggu, 20 September 2020 di Mataram.

Pria kelahiran Lepak, Sakra Timur pada 1953 tersebut menghembuskan napas terakhir setelah mengalami perwatan intensif selama tiga hari terakhir. “Bapak memang drop beberapa hari ini sampai kita tidak bisa komunikasi intens. Sebelumnya memang mengalami stroke juga sejak 10 tahun lalu,” ujar salah satu putra Al Mahsyar, Putra Rinjani, saat ditemui Suara NTB.

Iklan

Menurut Putra, selama sakit Al Mahsyar memilih menjalani perawatan di rumah dengan ditemani keluarga. Untuk itu, secara rutin tim medis dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram melakukan kunjungan pemeriksaan.

Diterangkan Putra, jenazah almarhum akan dikembumikan pada Senin, 21 September 2020, bakda zuhur di Pemakaman Umum Selagalas.

Semasa hidupnya, Al Mahsyar selalu menyampaikan semangat untuk membangun kesetaraan bagi penyandang tuna netra. Hal tersebut disebabkan pada usia tiga tahun, Al Mahsyar kecil tertular cacar dari ibunya hingga menyebabkan dirinya menjadi penyandang tuna netra dan ibunya meninggal dunia.

Semangat tersebut dibuktikan dengan usahanya mendirikan SLB pertama bagi penyandang tuna netra kemudian merekrut siswa-siswanya untuk bergabung dalam Orkes Musik Pelita Harapan. Di mana Al Mahsyar memang dikenal juga sebagai salah satu musisi yang telah lama berkecimpung di dunia musik sasak.

Bersama Orkes Pelita Harapan, dirinya mendapatkan penghargaan spesial seumur hidup dalam Anugrah Musik Lombok yang diberikan langsung oleh Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE. M.Sc pada 2017 lalu.

“Bapak selalu menekankan ingin menyetarakan anak-anak tuna netra dengan orang lain. Waku masih zaman bapak main orkes juga selalu disounding siapapun anak, saudara, atau keluarga dari penonton yang menjadi penyandang tuna netra silahkan dibawa ke sini (YPTN Al-Mahsyar, Red), kita siap menanggung pendidikannya gratis,” ujar Putra.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, menerangkan bahwa sosok Al Mahsyar memang telah menjadi sosok dan salah satu maestro musik yang dimiliki NTB.

“Beliau memainkan alat musik dari umur lima tahun. Beliau memberikan kontribusi yang sangat besar di bidang seni musik,” ujarnya kepada Suara NTB, Minggu, 20 September 2020.

Menurutnya, ada banyak semangat yang bisa diambil dari sosok Al Mahsyar. Antara lain semangat untuk tetap berkarya di tengah keterbatasan yang ada. “Beliau memulai berkarya dengan segala keterbatasan, baik fisik maupun peralatan yang digunakan. Tapi itu tidak menyurutkan semangat beliau untuk terus maju. Ini yang patut dicontoh dan diapresiasi,” ujar salah satu musisi kawakan NTB tersebut.

Bagi Denny, sosok Al Mahsyar menjadi contoh bagi dirinya dan musisi lainnya yang ada di NTB. Khususnya untuk meniru kerja keras, dedikasi, dan visi yang diperjuangkan oleh Al Mahsyar semasa hidupnya.

“Untuk saya pribadi dan mungkin teman-teman musisi yang lain agar mengikuti kerja keras beliau. Belajar dari nol, dan terus mengembangkan kemampuan untuk memulai karir di bidang seni,” tandas Denny. (bay)