Dulu Hidup Susah, Sekarang Beromzet Rp 30 Juta Sehari

Mataram (suarantb.com) – Tidak banyak yang tahu, kisah berliku yang harus dilalui Ibu Sinnaseh, pemilik salah satu rumah makan sate Rembiga yang turut mempelopori berkembangnya kuliner khas daerah Rembiga di Kota Mataram hingga dikenal ke pelosok negeri ini. Saat ditemui suarantb.com pada Sabtu, 4 Februari 2017 di rumah makannya, ia baru saja pulang dari pasar.

“Setiap hari saya ke pasar dari jam 09.00 sampai 10.00 mbak,” ujarnya mengawali pembicaraan.
Menceritakan kisah awal hidupnya, guratan kesedihan melintas di raut wajahnya. Matanya terlihat berkaca-kaca, dan sesekali ia mengusap buliran air mata yang jatuh.

Iklan

Di usianya yang mencapai kepala lima, Sinnaseh mengaku telah banyak makan asam garam dalam membangun usaha bisnisnya. Baginya, kondisi hidupnya yang dulu sangat jauh berbeda dengan sekarang.

Sebelum banting setir berjualan sate, ia pernah keliling menjajakan jajanan tradisional seperti kue lapis dan nagasari. Ia juga pernah berkeliling menjual bubur sumsum dan terakhir berkeliling menjual sate usus. Sejak kecil, ia telah terbiasa berjualan keliling.

“Masa gadis ndak saya habiskan seperti kebanyakan remaja lainnya, yang sering bermain kemana-mana. Saya sudah berjualan sejak kecil, sejak umur tujuh tahun sudah jualan. Banyak sekali yang pernah coba saya jual,” ujar wanita yang memiliki lima orang anak tersebut.

Sinnaseh menceritakan bahwa perkenalan awal dirinya dengan resep sate khas Rembiga itu tepatnya 25 tahun lalu, saat ia bekerja di rumah makan sate yang dimilki almarhum Ibu Nafisah.

Menurutnya, ketika itu masih belum banyak orang yang mengenal sate khas Rembiga tersebut. Seiring berjalannya waktu, sate Rembiga mulai banyak dikenal. Dari sanalah ia ikut serta mengembangkan resep sate rembiga dan menjadi juru bumbu di tempat Ibu Nafisah.

Selepas kepergian Ibu Nafisah, Sinnaseh mencoba untuk membuka sendiri usaha sate yang telah dikembangkannya. Dari sanalah, bersama suaminya, ia jatuh bangun mendirikan rumah makan sate rembiga mulai dirasakan. Terutama karena dirinya masih harus berutang demi mendapatkan modal berjualan.

“Karena modal belum cukup, saya masih sering pinjam. Dulu pernah join juga sama orang jualannya, tapi ya utangnya juga banyak, jadi hasil jualan sering untuk nutupin utang,” paparnya.

Meski hidup terlilit utang, namun Sinnaseh tidak menyerah. Ketika itu, dirinya juga harus dihadapkan dengan pesaing-pesaing lain yang mulai bermunculan. Tidak sedikit juga dari mereka yang mencoba menghalang-halangi bisnis Sinnaseh.

Namun dari awal, Sinnaseh meyakini bahwa kesabaran dan kegigihan menjadi modal penting bagi dirinya jika ingin membangun bisnisnya hingga mampu dikenal seperti saat ini.

“Ya banyak orang yang ndak suka, banyak yang ngomongin jelek tentang saya. Tapi saya selalu berusaha sabar, karena itu kuncinya. Yang penting saya ndak buat jahat ke mereka” ujar Sinnaseh.

Saat ini, Sinnaseh memiliki rumah makan sendiri. Bertempat di Jalan Dr. Wahidin No. 8, Rembiga, Mataram, bangunan tersebut memilki lokasi yang sangat strategis. Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 150-200 kilogram daging sapi sebagai bahan utama membuat sate. Ia mengaku dapat mengantongi omzet hingga Rp 30 juta rupiah per hari. Dalam sebulan, ia dapat mengantongi pendapatan bersih Rp 75-100 juta.

Pelanggan yang berkunjung ke rumah makannya sangat beragam. Selain pengunjung lokal, banyak juga pengunjung dari luar daerah hingga mancanegara. Dari artis papan atas hingga para pejabat, pernah singgah untuk mencicipi sate khas rembiga buatannya.

Ditanya mengenai resep rahasia yang ia gunakan, Sinnaseh mengaku tidak memiliki resep khusus. Ia hanya mempertahankan resep bumbu yang telah dipegangnya sedari dulu. “Bumbu ya biasa aja, bawang putih, cabai, terasi, gula merah dan garam. Saya berusaha agar bumbu tidak berubah dari dulu, biar rasanya tetap sama,” ungkapnya.

Dengan demikian, meskipun banyak yang menjual sate rembiga lain di sekelilingnya, Ia tak merasa khawatir karena telah memiliki pelanggan sendiri. Menurutnya, ia tidak ingin bersaing dengan cara yang tidak baik. Baginya, rezeki sudah diatur oleh Tuhan, sehingga ia tak perlu merasa khawatir.

Bagi Sinnaseh, dukungan orang-orang terdekat sangat berharga. Terutama dalam memberikan dorongan dan masukan agar ia tetap mengembangkan bisnisnya.

“Saya mendapat dukungan dari orang-orang terdekat, apalagi suami saya udah delapan tahun lalu meninggal. Anak-anak saya banyak bantu, juga ada Pak Alwi dan Pak Asabin yang sekarang jadi mitra bisnis saya,” ujarnya.

Kedepannya, ia berhadap agar bisa mengembangkan usaha bisnisnya di luar NTB. “Saya pinginnya buka cabang di Jakarta, ini lagi nyari-nyari tempatnya dulu,” pungkasnya. (hvy)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional