Dulu Dorong Gerobak, Pedagang Sayur ini Kini Miliki Tiga Karyawan

Mataram (suarantb.com) – Toko itu terletak di sisi sebelah kiri Jalan Raya Panji Tilar Negara. Sekitar 250 meter ke arah selatan dari Akademi Pariwisata Mataram. Tak ada papan nama maupun spanduk yang tertulis di depan toko. Namun sepertinya semua bisa menebak hanya dengan melihat aneka sayur dan ikan yang berjejer di depan toko tersebut.

Beberapa pembeli nampak sibuk memilih di antara dua meja yang dipenuhi aneka sayur dan buah. Tampak beberapa memilah aneka hasil tangkapan laut yang tersedia dalam bak-bak besar yang terletak di bagian sudut depan toko sayur.

Iklan

Sedangkan di bagian dalam, tampak sang pemilik sedang membungkus tomat dan cabai dengan berbagai macam berat dan ukuran. Namanya Anto, namun hampir semua pelanggannya memanggilnhya dengan sebutan Paklek (Paman) Sayur.

Sudah tiga tahun ini toko yang berukuran 8 x 8 itu selalu ramai dengan pengunjung. Dari pukul 06.00-18.00 Wita, sangat jarang toko sayur itu terlihat sepi pengunjung.

Tak tanggung-tanggung, Paklek, kini memperkerjakan tiga karyawan untuk melayani para pembeli. Itu belum termasuk dirinya dan sang istri yang turut membantu.

Ia memang tidak memberitahu total omzet yang didapat. Namun hal tersebut bisa dilihat dari jumlah pengunjung yang bisa mencapai lebih dari 100 orang per hari.

Meskipun demikian, tak banyak yang tahu jalan berliku yang harus dilalui Paklek Anto untuk bisa seperti sekarang. Perkenalannya dengan sayur-mayur tersebut dimulai dengan awal kedatangannya ke Lombok dari kampung halamannya di Pati, Jawa Tengah 2002 lalu.

“Awalnya saya mau jualan kunci-kunci saja, tapi kurang pede, akhirnya ikut paman jualan sayur keliling,” ujarnya mengawali pembicaraan dengan suarantb.com, Minggu, 5 Maret 2017.

Awal berjualan sayur di tahun 2003, ia hanya bermodalkan Rp 400 ribu, pinjaman dari sang paman. Dari sana ia mulai merintis usahanya dengan berjualan keliling dengan menggunakan gerobak. “Jualan pakai gerobak sekitar 4 tahun, terus pakai rombong motor sekitar 4 tahun,” tutur Anto.

Setelah menggunakan rombong motor, ia beralih menggunakan mobil bak terbuka untuk berjualan. Ketika berkeliling jualan, ia mengaku hanya menyusuri komplek-komplek perumahan di kawasan Panji Tilar. Dari sana, akhirnya ia memperoleh banyak pelanggan tetap.

Keliling menggunakan mobil selama 2 tahun, Anto memutuskan untuk mengontrak sebuah tempat untuk berjualan menetap. “Waktu itu saya belum punya cukup modal, akhirnya pinjam untuk biaya ngontrak Rp 15 juta,” ungkapnya.

Hingga saat ini, telah 13 tahun Paklek Anto berjualan sayur. Ia sendiri tak menyangka bisa mengontrak tempat untuk berjualan sayur seperti sekarang. Namun ia percaya, di mana ada kemauan pasti ada jalan untuk melangkah.

Menurut pria berusia 37 Tahun ini, modal utamanya adalah kemauan untuk berubah, kemauan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. “Saya bilang sama diri saya, setiap hari harus ada perubahan, harus menjadi lebih baik,” imbuhnya.

Selain itu, kegigihannya dalam membangun usaha bisnis dapat dilihat dari keinginannya membaca berbagai macam buku “Saya juga belajar dari buku, bagaimana strategi jualan bagaimana menyikapi pembeli dan sebagainya,” ujarnya.

Iaa menuturkan bahwa belajar dari pengalaman adalah yang paling berharga. Kegigihan serta keuletannya dalam melakukan sesuatu kini membuahkan hasil. Meskipun masih mengontrak, namun bersyukur apa yang telah diberikan Allah SWT untuknya.

“Kalau ditanya mau mengembangkan bisnis pasti mau, cuma untuk sekarang , begini saja dulu saya sudah bersyukur, nanti sambil pelan-pelan lah” ujarnya.

Baginya, dalam menjalani hidup, manusia harus banyak bergerak. Bergerak untuk tumbuh dan maju. “Saya selalu berpikir ke depan, punya kemauan untuk berubah itu yang utama,” pungkasnya. (hvy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here