Dulu Bertaruh Nyawa untuk Indonesia, Kini Tak Dihiraukan

Selong (Suara NTB) – Seorang mantan pejuang kemerdekaan berusia lanjut, mengadukan kondisi kehidupannya yang kurang mendapatkan perhatian pemerintah daerah. Hanya demi meminta bantuan kursi roda, ia harus rela menerima sikap pejabat yang memintanya mengurus permohonan kesana dan kemari.

Tubuh tua ringkih Abu Samsudin terunduk lesu saat berjalan. Dengan dipandu satu tongkat, itupun tak cukup membawanya untuk berjalan satu ataupun dua langkah. Dengan menggunakan baju kebanggannya  berlabel “perintis kemerdekaan” yang mulanya berwarna merah tua, kini terlihat kusam dan beberapa bagiannya robek.

Iklan

Abu Samsudin Ia tinggal di Dusun Dasan Tiga Kecamatan Sukamulia. Dengan menggunakan peci berwarna kuning lusuh di kepala, ia tetap mengingat bagaimana dirinya merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan para penjajah, meskipun nyawa sebagai taruhannya pada saat itu.

Kini, di usia yang menginjak 104 tahun, ia sedih dengan tingkah laku para pejabat pemerintah yang banyak terlibat kasus korupsi dan hanya mementingkan diri sendiri. Padahal, katanya, apa yang sudah dicapai oleh bangsa Indonesia tidak terlepas dari perjuang yang dilakukan oleh para perintis kemerdekan ataupun veteran yang telah memperjuangkan banga Indonesia.

Mereka (veteran dan perintis kemerdekaan) merupakan cikal bakal bangsa Indonesia yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Akan tetapi, katanya, para pejuang itu saat ini belum banyak mendapat perhatian yang layak dari pemerintah sebagaimana perjuangan yang mereka lakukan dengan mempertaruhkan nyawa demi negeri ini.

Menurut beliau, hampir semua pejuang bangsa Indonesia baik yang masih hidup maupun dari keluarganya sama sekali tidak diperhatikan, hal itu dibuktikannya ketika ia meminta sumbangan ke pemerintah untuk diberikan kursi roda agar bisa beraktivitas setiap hari. Akan tetapi, katanya, permintaan itu sama sekali tidak digubris oleh pemerintah.

“Saya sudah datang dua kali ke kantor ini (Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transimigrasi) Lotim untuk meminta bantuan diberikan kursi roda. Namun sama sekali tidak ada yang peduli, pejabat disini saling lempar tanggung jawab. Apakah begini sikap pemerintah kita saat ini,” kritiknya.

Meskipun usianya cukup senja, pendengaran, penglihatan dan daya ingat dari Abu Samsudin cukup kuat. Terutama saat mengingat bagaimana ia memperjuangkan bangsa Indonesia sejak 1934 sampai diproklamirkannya hari kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1945. Dalam perjuangan saat itu, tuturnya, ia bertugas sebagai mata-mata atau saat ini akrab disebut intel, sehingga segala sesuatu sangat ia ketahui.

Saat ini, jumlah anaknya sebanyak 24 orang dari 12 istri. Dari 24 anak itu, katanya, ia memiliki cucu sebanyak 70 orang. Namun saat ini semuanya tidak dia ketahui dimana keberadaannya.

Dalam peringatan Hari Pahlawan 10 November, ia berharap kepada pemerintah untuk lebih memerhatikan perintis ataupun veteran yang telah merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah.

Sementara, Sekretaris Disosnakertrans Lotim, H. Ridatul Yasa, menyebut jika bantuan sosial untuk pengadaan kursi roda memang untuk saat ini tidak ada. Akan tetapi, ia menyarankan supaya apabila itu sangat dibutuhkan supaya membuat suatu proposal kemudian diusulkan. (yon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here