Duka Petani Pascabanjir Bima

Tampak tambak garam milik warga di Desa Sanolo Kecamatan Bolo, tergenang luapan banjir, Selasa, 6 April 2021.(Suara NTB/Jun)

Bima (Suara NTB) – Selain merenggut dua jiwa, banjir bandang Jumat 2 April 2021 juga menyisakan duka bagi ribuan warga di Kabupaten Bima, NTB. Rumah mereka luluh lantak, akses jembatan putus dan sumber mata pencaharian tergenang.

Seperti halnya Muhdar (40). Petani garam asal Desa Sanolo Kecamatan Bolo ini, harus menanggung pahitnya luapan banjir. Tambak garam miliknya jebol dan tergenang, hingga  membuat puluhan ton garam di tempat penampungan sementara mencair. Ia menaksir kerugian sampai puluhan juta rupiah.

Iklan

Sebagai satu-satunya sumber mata pencaharian. Muhdar tak bisa lagi berbuat banyak. Ia harus bertahan memenuhi kebutuhan hidup keluarga hingga musim panas tiba dengan ratusan kilogram garam yang berhasil diselamatkan. “Hanya ini yang bisa kami selamatkan,” cetusnya menjawab Suara NTB, Selasa, 6 April 2021.

Kendati menjadi bagian dari korban bencana alam tahunan itu. Ia bersama petani garam lain justru luput dari perhatian pemerintah. Mungkin menurutnya, ini karena rumah dan peralatan rumah tangga tidak mengalami kerusakan layaknya pemukiman warga di beberapa desa. “Sampai sekarang tidak ada yang datang menengok. Apa bedanya, kami juga kehilangan mata pencaharian,” keluhnya.

Persoalan serupa dialami Lestika (38), selain mencairnya garam di gudang penampungan akibat genangan banjir. Ribuan ikan bandeng di tambak budidaya miliknya amblas. Itu praktis menghilangkan sumber penghasilannya tiap hari. Saat ini, ia menunggu niat baik pemangku kebijakan untuk meringankan beban keluarga. Minimal mencukupi kebutuhan makan dan minum sampai pulihnya kondisi cuaca bagi para pembudidaya dan petani garam.

Selain petani garam di Kecamatan Bolo. Banjir bandang empat hari lalu, juga berimbas terhadap hasil pertanian warga di Desa Rabakodo Kecamatan Woha. Pasalnya, padi yang sudah melalui proses panen mulai berjamur akibat terlalu lama digenangi air.

Selain banyak padi yang harus dibuang sia-sia. Aminah mengaku, hasil beras giling nantinya akan menghintam. Ini tentu berimbas terhadap nilai pembelian dari pengusaha gudang. “Kalaupun ini digiling pasti harganya rendah, tapi syukulah masih ada buat makan,” ujarnya disela memilah butiran padi yang masih bisa ia manfaatkan.

Di Dusun Sarae Desa Rabakodo, lanjut salah seorang petani itu, bajir tidak begitu berdampak terhadap pemukiman warga. Hanya saja, musibah tersebut mengganggu produktifitas hasil pertanian.

Peristiwa ini harus menjadi pembelajaran bersama, terutama untuk memperhatikan pemanfaatan kawasan hutan di wilayah Parado. Karena ketika terus dibiarkan tanpa pengontrolan, bencana susulan yang jauh lebih besar tidak menutup kemungkinan akan kembali terjadi. “Tanam jagung bisa, tapi jangan kami petani padi di bawah ini jadi korban. Pemerintah harus turun tangan,” harapnya. (jun)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional