Dugaan TPPO, Polda NTB Tangkap Penampung 120 PMI Ilegal ke Timur Tengah

Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto menunjukkan paspor sebagai barang bukti kasus TPPO PMI ilegal anak di bawah umur dengan tersangka Karno (kanan), Kamis, 22 Juli 2021.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Polda NTB menangkap warga Jerowaru, Lombok Timur berinisial LS alias Karno (48). Pria ini diduga menguruskan keberangkatan 120 Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara ilegal ke Timur Tengah. 70 orang masih terjebak di negara tujuan. Sisanya, 50 orang masih di penampungan.

Karno ditangkap pada Rabu, 21 Juli 2021. Kasusnya dengan korban inisial PU alias DW (17)  yang direkrut dengan modus curi umur. Umur korban dinaikkan enam tahun. Padahal aslinya masih berumur 17 tahun. “Korbannya masih di bawah umur. Selama di penampungan, korban ini disetubuhi tersangka,” ungkap Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto didampingi Dirresrkrimum Polda NTB Kombes Pol Hari Brata, dan Kasubdit IV Renakta AKBP Ni Made Pujewati.

Iklan

Tersangka Karno menampung korban setelah direkrut anak buahnya berinisial F di Kediri, Lombok Barat. Karno bertindak sebagai sponsor yang akan mengirim korban secara perseorangan. Karno lalu membuat manipulasi dokumen untuk memuluskan pemberangkatan korban yang masih di bawah umur ini. “Korban dibawa ke Sumbawa untuk dibuatkan paspor di sana,” Imbuh Artanto. Karno lebih dulu mengubah identitas korban di KTP. Caranya mengganti tahun kelahiran. Dari tahun 2004 menjadi tahun 1998.

Korban ditampung sementara di rumah tersangka. Selama itu pula, korban disetubuhi. Dari sana kasus ini pun terungkap. Karno lalu ditangkap. “Korban sudah hamil satu bulan,” kata Artanto. Hari Brata menerangkan, Karno merupakan pemain lama dalam jaringan TPPO. Dibuktikan dengan sebanyak 70 orang warga NTB yang diberangkatkan secara ilegal ke Timur Tengah.

“Masih ada 50 orang lagi yang sedang tahap pembuatan paspor. Mereka ini dikirim sebagai pelancong. Padahal di negara tujuan dijadikan sebagai tenaga kerja,” jelasnya. Dia menambahkan, Karno memiliki jaringan agensi terselubung di Jakarta. Jaringan di ibukota negara ini yang menghubungkan para korban dengan agen di negara tujuan. “Dari satu orang yang direkrut, tersangka mendapatkan keuntungan Rp12 juta,” kata Hari.

Tersangka Karno kini sudah ditahan di Rutan Polda NTB. Dijerat dengan pasal 6, pasal 10, dan atau pasal 11 UU RI No21/2007 tentang pemberantasan TPPO yang ancaman hukumannya penjara paling lama 15 tahun dan denda maksimal Rp600 juta. (why)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional