Dugaan Penggelapan Dana Yayasan STKIP Bima, Polda NTB Dalami Keterlibatan Oknum Mantan Kapolsek

Hari Brata. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Penyidikan dugaan penggelapan dana Yayasan STKIP Bima 2016-2019 makin berkembang. Polda NTB terus mencari indikasi keterlibatan tersangka lain. Dari gelar perkara mengemuka peran dua orang yang diduga turut serta menggelapkan dana sebesar Rp19,35 miliar.

Oknum mantan Kapolsek diduga terlibat dalam penarikan Rp6 miliar. “Ya betul dia yang menarik uang. Kita buktikan dulu formil dan materiilnya,” ucap Dirreskrimum Polda NTB Kombes Pol Hari Brata, Rabu, 28 Juli 2021. Dia menjelaskan, tim penyidik Subdit I sudah menggelar perkara tersebut. Dari gelar perkara muncul dua nama. Antara lain Staf Yayasan STKIP Bima dan mantan Kapolsek. “Perannya masih sebagai saksi. Kalau memang memenuhi unsur, kita jadikan tersangka. Kalau belum, kita dalami lagi,” ucapnya.

Iklan

Hari mengemukakan bahwa pembuktian unsur pidana harus dapat diuji secara formil maupun materiil. “Kalau formil dan materiilnya ini kita buktikan, maka mens rea-nya (unsur niat jahat) bunyi. Dari sini kita kejar dulu,” paparnya. Dalam kasus ini sudah ditetapkan lima orang tersangka. Yakni, Ketua STKIP Bima periode 2016-2020, HAA; Kepala Bagian Administrasi Umum 2016-2019, HMS; Ketua yayasan IKIP Bima 2019-2020, MF; Kepala Bagian Administrasi Umum 2019-2020, AA; dan Wakil Ketua I Bidang Akademik periode 2016-2019, AZ.

Dari hasil audit internal ditemukan indikasi penyimpangan mencapai Rp12,8 miliar. Setelah diselidiki kepolisian, tim audit independen dimintai untuk mengaudit kembali. Angka penyimpangannya berkembang menjadi Rp19,33 miliar. Para tersangka menarik uang yayasan tanpa sepengetahuan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Modusnya, dana dipakai bukan untuk kepentingan kampus. Diduga uang ini dipakai untuk kepentingan pribadi. (why)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional