Dua TKW Asal KSB Diduga Korban Perdagangan Manusia

Taliwang (Suara NTB) – Dua orang TKW asal Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dilaporkan menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Kondisi keduanya saat ini masih menunggu kejelasan pembayaran gaji dari masing-masing majikannya dan meminta untuk segera dipulangkan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi  (Disnakertrans) KSB kepada Suara NTB melalui Kabid Penta Lattas, Taufik Hikmawan, M.Si, Rabu, 24 Mei 2017 menyebutkan, dua orang korban tersebut atas nama Mardianti warga Seteluk Atas, Kecamatan Seteluk yang saat ini bekerja di Arab Saudi.

Iklan

Korban diduga berangkat ilegal karena tidak terdaftar di sistem layanan yang ada. Sementara untuk kondisi korban saat ini, dari mulai bekerja tahun 2016 lalu sampai dengan saat ini belum dibayarkan gaji oleh majikannya. Bahkan korban meminta kepada dinas terkait untuk bisa dipulangkan sesegera mungkin karena sudah tidak betah berada di negara tersebut.

“Kita sudah panggil sponsornya dan pihak sponsor akan mengupayakan supaya korban bisa dipulangkan,” ujarnya.

TKW lainnya, Marti Lestari, yang saat ini bekerja di Madinah, berangkat melalui PJTKI yang sudah ditutup dan dicabut izinnya oleh pemerintah. Bahkan terhadap kondisi Marti ini, pihaknya masih kesulitan untuk mengumpulkan keterangan. Mengingat Petugas Lapangan (PL) yang memberangkatkan korban dan penanggung jawabnya sudah tidak ada.

Melihat kondisi tersebut, dinas terkait mengambil tindakan dengan menyurati semua struktur pemerintah yang membidangi masalah ini untuk bisa membantu. “Kasusnya masih sama, tidak dibayarkan gajinya dari awal penempatan sampai dengan saat ini,” ujarnya.

Seraya menyebutkan, melihat kondisi tersebut, pihaknya meminta kepada masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan lowongan kerja di luar negeri. Selain itu, pihaknya juga akan mengupayakan supaya tidak ada lagi Petugas Lapangan (Zero PL).

Ketika PL sudah bisa ditekan, maka peminat yang akan bekerja di luar negeri bisa mencari data ke dinas terkait. Sehingga para TKI ini bisa dikontrol keberangkatannya dan meminimalisir kasus yang menimpa para TKI ini.

“Kita akan minta PJTKI untuk bisa menyerahkan profilnya ke dinas terkait. Sehingga baik itu PJTKI maupun TKI yang akan berangkat bisa di cek dan terus dipantau,” tandasnya. (ils)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here