Dua Terduga Pengedar Obat Ilegal di Mataram Dibekuk Polisi

Mataram (suarantb.com) – Tim Subdit I dan Subdit III Dit Resnarkoba Polda NTB berhasil membekuk dua pelaku yang diduga sebagai  pengedar obat secara ilegal. Ratusan obat yang dipasarkan secara ilegal diamankan polisi. Pelaku berinisial J (41) dan MS (31) ditangkap di Cakranegara dan Gomong, Mataram, Rabu, 24 Agustus 2016.

Kasubdit I Dit Resnarkoba Polda NTB, AKBP Cheppy Ahmad Hidayat, dalam keterangan pers mengatakan, penangkapan pelaku sebelumnya bermula dari pendalaman yang dilakukan pihak kepolisian selama sekitar satu bulan. Kemudian, polisi melakukan penggeledahan di Kampung Lekok, Cakranegara, Mataram.

Iklan

“Di Kampung Lekok kami menangkap pelaku berinisial J sekitar pukul 09.00 Wita. Kemudian saat penggeledahan di kediamannya kami menemukan obat Tramadol sebanyak 69 strip. Kemudian atas informasi pelaku J, kami mengarah ke Gomong. Di Gomong kami menangkap pelaku MS dan mengamankan ratusan obat,” ujar Cheppy dengan didampingi Kasubdit III dan Kasubdit PID Humas, H. Mukhdar H.Z, Jumat, 26 Agustus 2016.

Di kediaman MS di Gomong, polisi menemukan 1450 strip Tramadol atau sekitar 14.500 butir, 25.000 butir obat Dextro yang dikemas per kemasan, dan  40 strip obat Trihexyphenidyl, atau sekitar 400 butir.

Sementara, Kasubdit III Dit Resnarkoba Polda NTB, AKBP AA Gede Agung mengatakan kedua pelaku yang kini berstatus tersangka tidak mengantongi izin edar terkait jual beli obat-obatan tersebut. Sementara obat berjenis Dextro tersebut sebelumnya telah ditarik dari pasaran.

“Baik izin edar obat maupun orang yang diduga melakukan transaksi jual beli obat tidak memiliki kewenangan dalam hal melakukan jual beli obat. Kita koordinasi dengan Balai Pom untuk meminta ketarangan ahli. Dari keterangan ahli mengatakan bahwa obat Dextro sudah ditarik dari peredaran,” ungkap Agung.

  Pupuk Langka di Pasaran, Pemkab Dompu Ajukan Penambahan Kuota

“Artinya obat yang izin edarnya sudah dicabut pemerintah atau Dinas Kesehatan, tetapi nyatanya masih juga beredar. Untuk sementara hasil pengembangan, obat Dextro dan Trihexyphenidyl didapat di wilayah Cakra. Sementara untuk Tramadol kita masih lakukan pengembangan dan mencari pemilik yang tidak memiliki izin edar,” sambungnya.

Menurutnya, obat tersebut diakui tersangka berkhasiat sebagai penenang maupun peningkat stamina tubuh. Namun efek samping yang ditimbulkan adalah penurunan daya ingat. Sementara fungsi sebenarnya dari obat Tramadol oleh Balai Pom dikatakan digunakan seusai menjalani operasi, sementara untuk Dextro merupakan obat batuk.

Terhadap tersangka dikenakan ancaman dalam pasal 197 undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar. (szr)