Dua Terdakwa Kasus Tanah Adat Divonis Bersalah

Selong (Suara NTB) – Dua terdakwa pejuang tanah adat Jurang Koak Desa Bebidas, masing-masing Amaq Nanda dan Amaq Novi, Selasa, 11 Oktober 2016 akhirnya divonis oleh pengadilan dengan hukuman 1,5 tahun penjara. Putusan tersebut sama dengan ketua pejuang adat, Amaq Wir yang sebelumnya juga sudah lebih dulu mendapatkan vonis pengadilan.

Mengetahui putusan hukum terhadap warganya tersebut, Kepala Desa Bebidas Kecamatan Wasanaba, Sarapudin menyatakan, perjuangan atas hak adat itu tetap akan dilakukan. Putusan hukum atas dua para terdakwa pejuang ini tetap akan dilalui, akan tetapi, namanya perjuangan ditegaskan tidak akan berhenti.

Iklan

Begitupun terhadap putusan terakhir hakim Pengadilan Negeri Selong, akan dilawan para pejuang melalui upaya banding. “Saya yakinkan 99 persen akan banding,” terangnya.

Menurutnya, perjuangan untuk memperoleh hak atas tanah yang diklaim merupakan tanah adat Jurang Koak dari pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) harus dihargai oleh semua pihak. Semua pihak diminta mengakui adanya hak yang akan diperjuangkan oleh para pejuang adat tersebut. “Semua pihak harus mengakui, namanya pejuang harus diakui haknya,” pintanya.

Dalam hal ini, ungkapnya, ada yang menarik dari putusan hakim PN Selong yang dinilai bisa menjadi celah untuk memuluskan perjuangan mendapatkan hak tanah adat. Dalam risalah putusan yang tertuang dalam vonis pengadilan, ada perbedaan pendapatan antara hakim yang menyebutkan kasus yang mendera para pejuang adat itu murni kasus perdata. Atas alasan itu, ujarnya, menghukum terdakwa satu hari sama artinya menghilangkan hak perdata pejuang tanah adat dan membebaskan terdakwa dan sama artinya menghilangkan hak perdata dari pihak TNGR.

Putusan penjara 18 bulan dari para terpidana itu dikatakan tetap akan dilalui secara utuh. Karenanya, bagi putusan pertama yang menjerat Ketua Pejuang Adat tidak dilakukan upaya banding, karena sudah diterima. Tafsirannya, pendapat hakim tersebut tidak bisa dikesampingkan.

Kasi Intelijen Kejari Selong, Jeffry Lokopessy sebelumnya menjelaskan, tiga terdakwa diberikan vonis sama. Sama-sama satu setengah tahun. Lebih rendah dari tuntutan jaksa 2,5 tahun. Sampai sekarang, sebutnya belum ada kabar mengenai apakah para terdakwa melakukan upaya hukum atau tidak. Pasalnya, dalam jawaban terakhir saat ditanya majelis hakim, para terdakwa mengatakan pikir-pikir dulu.

Sementara Penasehat Hukum terdakwa, Wahyudin Lukman, SH, MH, menjelaskan setelah vonis, pihaknya akan melakukan negosiasi dengan kliennya, apakah akan dilakukan banding ataupun tidak. Ia menyebut, masa tahanan yang divonis 1,6 tahun berkurang dari tuntutan 2,8 tahun. “Nanti kita akan negosiasi lagi dengan klien saya, apakah kita akan melakukan banding ataupun tidak,”jelasnya. (rus/yon)