Dua Tahun Zul-Rohmi, Mengayuh Industrialisasi di Tengah Dua Bencana

H. Zulkieflimansyah, Hj. Sitti Rohmi Djalilah. (Suara NTB/dok) 

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) telah dua tahun memimpin NTB. Selama dua tahun, Zul-Rohmi berjibaku menghadapi dampak sosial ekonomi dari dua bencana yang silih berganti melanda NTB. Namun, hal ini tak menjadi penghalang dalam mendorong capaian program unggulan sesuai visi-misi NTB Gemilang.

Sejak dilantik 19 September 2018, Zul-Rohmi langsung dihadapkan dengan situasi pascabencana gempa bumi yang meluluhlantakkan sejumlah daerah di NTB. Tak pelak, rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi pun menjadi prioritas utama di tahun pertama kepemimpinan duo doktor ini.

Iklan

Hasilnya cukup menggembirakan. Hingga Januari 2020, NTB berhasil merekonstruksi dan merehabilitasi 42,034 unit rumah yang rusak berat, 20.942 rumah yang rusak sedang, dan 75.696 rumah rusak ringan. Total keseluruhan rumah yang berhasil direhabilitasi dan direkonstruksi mencapai 138.672 unit. Sementara, 50.387 unit lainnya dalam tahap pengerjaan.

Kebijakan rehab-rekon ini dibarengi pula dengan dukungan pemulihan ekonomi yang terbilang cukup efektif dalam waktu singkat. Memasuki medio 2019, pemulihan pascagempa yang dijalankan pasangan Zul-Rohmi telah nyata hasilnya. Ekonomi NTB mulai pulih. Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang terakselerasi secara menggembirakan pada sepanjang paruh kedua 2019.

Dilaporkan, kunjungan wisatawan dari Australia ke Lombok pada semester kedua 2019 meningkat hingga 661 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Perkembangan ini tak terlepas dari dibukanya penerbangan langsung AirAsia dengan rute Perth-Lombok sejak 9 Juni 2019. Tak main-main, tingkat keterisian pesawat (seat load factor) AirAsia untuk rute tersebut mencapai rata-rata 80 persen.

Sayangnya, bencana berikutnya kembali menginterupsi perkembangan positif tersebut. Memasuki 2020, pandemi Covid-19 merebak di berbagai belahan dunia. NTB termasuk salah satu yang terdampak. Pada 24 Maret 2020, Gubernur NTB mengumumkan adanya pasien positif pertama di NTB. Sejak itu pula, ekonomi NTB kembali terkena guncangan keras.

Sektor pariwisata menjadi yang paling terdampak. Namun, meski dampaknya sangat terasa, pandemi Covid-19 justru mendatangkan berkah terselubung. Sebab di tengah pandemi inilah, sejumlah kebijakan penguatan industri di NTB mulai bersemi. Di masa pandemi ini pula, program JPS Gemilang diluncurkan.

JPS Gemilang adalah program penyaluran bantuan sosial berupa komoditas pangan dan kebutuhan rumah tangga yang diproduksi oleh UMKM dan IKM lokal NTB. Program ini diluncurkan dalam tiga tahap. Penyaluran tahap pertama pada 16 April 2020. Meski diwarnai banyak catatan di tahap pertama, JPS Gemilang kemudian dibenahi dalam penyaluran tahap II pada 30 Mei 2020. Pada penyaluran tahap III, 13 Juli 2020, program ini telah sukses mencuri perhatian berbagai kalangan.

Awalnya JPS Gemilang hanya melibatkan sekitar 300 UMKM. Di tahap berikutnya, angka itu naik menjadi 535 UMKM. Dan pada tahap terakhir, UMKM yang terlibat bahkan menembus 3.271 UMKM lokal NTB.

Namun, kebijakan penguatan industri pengolahan ini barulah langkah pertama dari rangkaian pembangunan industri di NTB. Langkah ini kemudian diperkuat dengan mendorong tumbuhnya IKM permesinan.

Melalui STIPark NTB, IKM permesinan lokal didorong untuk memproduksi 2.130 mesin dan peralatan yang dipesan Pemprov NTB. Setelah dibuat, mesin-mesin ini nantinya akan diberikan kepada UMKM-UMKM lokal demi mendorong kualitas produk mereka. Tercatat, hingga September 2020, mesin-mesin bantuan untuk UMKM di NTB telah mencapai 1.636 unit. Angka ini setara dengan 74 persen dari total target produksi. Selebihnya, sebanyak 395 unit mesin sedang dalam proses produksi.

Sebanyak 10 organisasi perangkat daerah di NTB ambil bagian dalam distribusi mesin-mesin tersebut. Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, mengakui, selama dua tahun terakhir, program industrialisasi memang menjadi fokus utama pemerintahan Zul-Rohmi. Menurutnya, hal yang paling dirasakan dari kebijakan ini adalah semakin familiarnya para pelaku ekonomi lokal dengan tema industrialisasi.

Gubernur menilai, di tengah merebaknya wabah Covid-19, IKM NTB justru mampu menghasilkan produk berteknologi tinggi, seperti sepeda listrik dan motor listrik. ‘’Gaung industrialisasi sudah (terdengar). Minimal sudah nggak aneh bagi sebagian besar orang di NTB,” kata Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Sc, dikonfirmasi di sela-sela kunjungan kerja Menteri Agama, Jenderal (Purn) Fachrul Razi di Mataram, Rabu, 16 September 2020.

Gubernur menilai, salah satu tahapan penting yang berhasil dilalui NTB adalah edukasi mengenai hakikat industrialisasi. Kini, para pelaku UMKM mulai tergerak untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk mereka lewat jalan industrialisasi. Industrialisasi memang menjadi salah satu program unggulan Pemprov NTB yang paling ikonik di bawah kepemimpinan Zul-Rohmi.

Bagi Gubernur, industri merupakan fondasi ekonomi yang dibutuhkan untuk mengimbangi investasi yang juga tengah didorong untuk tumbuh di NTB. Dalam berbagai kesempatan, gubernur selalu menekankan bahwa industrialisasi tidak selalu berkaitan dengan pabrik atau permesinan yang canggih dan tampak hebat. Hakikat industrialisasi adalah mendorong proses produksi komoditas lokal, menjadi barang bernilai tambah.

Proses produksi inilah yang terus menerus dibenahi secara bertahap, dengan dukungan kebijakan Pemprov NTB dan kabupaten/kota di NTB. Hasilnya cukup nyata. Aneka produk industri lokal kini telah tampil ke permukaan.

Misalnya saja, alat rapid test Corona berbiaya murah dengan kualitas yang sangat baik yang dibuat oleh Profesor Mulyanto melalui Laboratorium Hepatika bersama dengan para pakar lainnya. Dalam setahun mampu memproduksi 600 ribu alat rapid test. Selain itu, pengajar dan murid SMK di NTB, juga bisa memproduksi motor listrik. Misalnya, SMKN 1 Lingsar dengan motor listrik “Lingsar”.

Ada pula yang kini mengkreasikan sepeda motor listrik “Le-Bui” dan telah memasarkannya hingga ke luar negeri. Kemudian di Sumbawa, para cendekiawan di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) mengembangkan motor listrik “NgebUTS”. Sedangkan di Bima, para anak mudanya ikut meramaikan produk teknologi buatan NTB, sepeda listrik yang bernama ‘Matric-B’ (Mbojo Electric-Bicycle).

Selain itu, para teknisi di berbagai daerah di NTB, kini juga telah mampu memproduksi berbagai mesin untuk aneka keperluan. Gubernur yang akrab disapa Bang Zul ini, mengatakan program-program yang sudah direncanakan dalam RPJMD dalam tiga tahun mendatang akan tercapai dengan baik. Untuk saat ini, Pemprov sedang fokus menangani Covid-19 baik dari sisi kesehatan maupun penanganan dampak ekonomi.

Bahkan, gubernur sudah meminta kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi NTB untuk membentuk tim khusus yang nantinya akan fokus berikhtiar pada upaya meminimalisir dan mengurangi angka kematian pasien Covid-19. Tidak hanya menekan angka kematian, tetapi juga didorong untuk mempercepat kebijakan stimulus ekonomi.

Menurut Bang Zul, jika angka kematian berhasil ditekan, maka akan lebih mudah bagi daerah-daerah yang awalnya masih zona oranye dan kuning berubah menjadi zona hijau. Sehingga akan sangat berpengaruh pada peningkatan kegiatan sosial dan pemulihan ekonomi masyarakat.

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, hingga 18 September 2020, tercatat jumlah kematian mencapai 179 orang atau sekitar 5,92 persen. Dengan jumlah kematian itu, Provinsi NTB berada pada posisi kelima nasional dengan tingkat kematian yang cukup tinggi di Indonesia.

Meskipun pemerintah sedang berjibaku dalam penanganan Covid-19 dari sisi kesehatan. Namun, kata gubernur, kebijakan stimulus ekonomi juga harus tetap berjalan. Dengan bantuan mesin-mesin buatan IKM lokal yang memungkinkan kegiatan ekonomi masyarakat yang terdampak dapat meningkat kembali. Karena imbas pertumbuhan ekonomi mulai berjalan pada September ini.

‘’Kita tidak boleh lengah. Jadi betul-betul saya minta tidak main-main. Karena kita tidak bisa berharap dari yang lain, selain dari akselerasi anggaran daerah kita sendiri,” pintanya. Asisten II Setda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M.TP, mengatakan distribusi mesin-mesin bantuan stimulus ekonomi hingga saat ini mencapai 1.636 unit. Dengan rincian 1.141 unit mesin sudah selesai diproduksi oleh IKM-IKM NTB dengan persentase sekitar 74 persen.

Kemudian yang sedang dalam proses pembuatan sebanyak 395 unit mesin atau mencapai sekitar 26 persen. Sementara itu, untuk proses kegiatan distribusi mesin-mesin itu, melibatkan 10 OPD lingkup Pemprov NTB. Sehingga kegiatan distribusinya ditargetkan selesai paling lambat pada bulan Oktober mendatang.

Pada minggu pertama bulan Oktober, semua mesin sudah dibagikan kepada kelompok masyarakat atau desa-desa di NTB.

Zero Waste dan Revitalisasi Posyandu

Industrialisasi bukan satu-satunya program unggulan yang digeber di dua tahun pertama Zul-Rohmi. Program lainnya, Zero Waste dan Revitalisasi Posyandu juga menjadi menu utama kebijakan Pemprov NTB selama dua tahun terakhir.

 Zero Waste adalah program untuk menjadi NTB sebagai daerah bebas sampah. Program ini merupakan perpaduan yang dibutuhkan dalam mendukung berbagai sektor. Khususnya, sektor pariwisata yang sangat membutuhkan kebersihan daerah guna memanjakan wisatawan yang berkunjung. Substansi program Zero Waste adalah upaya mengubah sampah menjadi berkah.

‘’Sampah harus dikelola dari hulu, sampah organik dan non organik harus dipilah. Dikelola dan diolah untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,’’ ujar Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah. Untuk menyulap sampah menjadi berkah, Pemprov NTB menggerakkan sejumlah tahapan.

Pertama, daur ulang sampah. Kedua, pembuatan bahan bakar pelet refuse derived fuel (RDF). Ketiga, sampah organik, diolah menjadi pupuk organik dan bahan pakan ternak dengan bantuan black soldier fly (BSF) dan cacing serta metode-metode lain .

Saat ini, Pemprov NTB juga telah menjalin kerjasama dengan PLN untuk menyediakan bahan bakar pelet berbahan baku sampah. Setidaknya 3 persen bahan bakar PLTU di NTB ke depannya akan bersumber dari sampah dengan tehnik RDF. ‘’Ini merupakan yang pertama di Indonesia. Selain didirikan pabrik RDF 2021 di Kebon Kongok, mesin RDF kedepannya diharapkan bisa ada di setiap desa dalam skala yang kecil,” sebut Wagub.

Berbagai program turunan Zero Waste yang dijalankan juga telah membawa hasil yang cukup menggembirakan. Selama 2019, realisasi pengurangan sampah di NTB telah mencapai 6,8 persen dari target 10 persen. Sementara itu, realisasi penanganan sampah tahun 2019 telah mencapai 34,91 persen dari target sebesar 30 persen.

Di sisi lain, program Revitalisasi Posyandu juga digeber secara serius. Wagub yang akrab disapa Umi Rohmi ini menegaskan, Pemprov NTB kini secara aktif mendorong terbentuknya Posyandu Keluarga. ‘’Dengan Posyandu Keluarga, seluruh masyarakat di desa terlayani sehingga edukasi yang dilakukan menyeluruh,’’ ujarnya.

Edukasi yang dilakukan di Posyandu Keluarga tidak hanya masalah kesehatan ibu dan anak. Namun juga masalah narkoba, pernikahan anak, lingkungan, potensi bencana, buruh migran ilegal hingga literasi keuangan. ‘’Semua bisa dilakukan melalui Posyandu,’’ pungkasnya. (aan/nas)