Dua Tahun Zul-Rohmi, BPS Apresiasi Penyiapan Industri Manufaktur

Suntono. (Suara NTB/ist) 

Mataram (Suara NTB) – Dua tahun menakhodai pembangunan di NTB, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi), diwarnai pertumbuhan ekonomi yang positif.

Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Suntono. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dua tahun terakhir tak lepas dari fondasi yang telah dibangun oleh pemimpin-pemimpin daerah sebelumnya.

Iklan

‘’Ibaratnya seperti pesawat terbang. Landing-nya sudah nyaman karena landasannya sudah disiapkan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya,’’ katanya. Secara empirik, dari kajian BPS, yang menarik dan baru di kepemimpinan NTB sekarang adalah program industrialisasi yang digulirkan cukup tepat. Karena sektor industri manufaktur jika dilihat dari kajian input dan output BPS, posisinya ada di kuadran kanan atas, atau kuadran yang menunjukkan bahwa manufaktur adalah sektor yang memimpin.

Dikatakan, sektor yang memimpin karena sektor ini yang sangat bertalian dengan masa lalu dan akan memengaruhi NTB di masa datang. ‘’Kalau sektor manufaktur ini diintervensi, diinjeksi, di-shocking. Ibaratnya dia bergerak ke depan dan ke belakang. Sehingga banyak sektor yang terpengaruh karenanya sehingga tumbuh dan besar bersama-sama,’’ ujarnya.

Hanya saja, yang menjadi PR gubernur dan wagub adalah nilai tambah manufaktur yang masih kecil dan struktur ekonomi NTB belum seperti struktur eknomi nasional. Struktur ekonomi nasional yang dimaksudkannya ditopang oleh sektor satu, yaitu pertanian secara umum (tanaman pangan, perikanan, perkebunan, kehutanan). Sektor manufaktur biasanya ada di lapisan ketiga. Lalu secara bertahap akan masuk ke lapisan pertama.

‘’Secara nasional sektor industri itu kan dominan, baru pertanian. Kalau struktur yang ada di NTB agak beda. Karena manufaktur itu ada di layer (lapisan) sekitar 6 atau 7. Karena persentase sumbangannya terhadap pembentukan PDRB baru 4 sampai 5 persen,’’ paparnya.

Manufaktur (industri kecil dan besar) sudah termasuk di dalam industrialisasi yang digalakkan oleh kepala daerah. Hanya saja, karena sumbangannya terhadap nilai tambah PDRB kecil, sehingga diintervensi sekuat apapun gerakannya terhadap ekonomi tak seberapa kuat. Karena, kata Suntono, sumbangannya masih kecil.

‘’Ibarat arus, arusnya masik kecil. Sekarang bagaimana caranya membesarkan kue manufaktur itu, sehingga jika diibaratkan sebagai gelombang, kalau digerakkan gelombangnya bisa berpengaruh besar menggerakkan sektor-sektor terkait,’’ jelasnya.

Jika manufaktur digerakkan lebih kuat, pengaruhnya pasti terhadap pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan pengangguran. Sangat cocok untuk memotong rantai kemiskinan. Saat ini “kue” industrialisasi relatif masih kecil. Sehingga dampaknya tak seberapa kuat. Jika ‘’kue’’ industrialisasi ini secara bertahap dibesarkan, Suntono menyakini, dampaknya akan luar biasa.

Karena itu, pesan Suntono, industrialisasi harus dilaksanakan secara konsisten. Jika hanya dibuat sebagai program sesaat, menurutnya hal itu akan kurang mengena. Suntono juga mengacungkan jempol, industrialisasi sudah digalakkan di NTB. Jika progam ini dikawal dua periode oleh kepemimpinan Dr. Zul dan Dr. Rohmi, industrialisasi bisa mendapatkan perhatian yang luas biasa.

Fondasi manufaktur menurut Suntono, sudah dibangun bagus di NTB. Dengan konsep hilirisasi, tidak membawa keluar komoditas setengah jadi. Jika seluruh sektor dihilirisasi, nilai tambahnya akan jauh lebih besar.

Selama dua tahun terakhir, pengangguran dan kemiskinan menurutnya mengalami dinamika yang cukup bagus. Inflasi NTB tahun 2019 terendah dalam 10 tahun terakhir. Penurunan kemiskinan juga tercepat kedua di Indonesia. Dan IPM NTB rata-rata di atas 1 persen percepatan tumbuhnya. ‘’Kalau melihat IPM, jangan lihat besaran angkanya. Tapi lihat bagaimana percepatan tumbuhnya. Dan dua tahun terakhir percepatan pertumbuhan IPM juga cukup bagus,’’ demikian Suntono. (bul)