Dua Pemilik Senpi Rakitan di Lotim Ditangkap

Selong (Suara NTB) – Sebanyak dua terduga pelaku yang menguasai dan memegang senjata api (senpi) rakitan diringkus aparat Satreskrim Polres Lombok Timur (Lotim). Kedua pelaku yakni Musmuliadi alias Adi (36) warga Lendang Terak Desa Ekas Buana Kecamatan Jerowaru dan Masmira (35) alamat Repok Selong Desa Batu Nampar, Jerowaru.

Penangkapan terhadap pelaku bermula dari laporan masyarakat, jika yang bersangkutan menguasai senjata api tanpa izin dari pemerintah. Dari tangan pelaku, Musmuliadi, petugas berhasil mengamankan dua pucuk senpi rakitan lengkap dengan pelurunya atau amunisinya. Dari keterangan pelaku, senpi rakitan itu didapatkan dengan cara dibeli dari seseorang yang berinisial AK dengan harga masing-masing Rp1.500.000 dan amunisi didapatkan dari salah seorang inisial BK.

Iklan

“Pelaku kami tangkap tanpa perlawanan di rumahnya di Duusn Lendang Terak Desa Ekas Buana. Saat dilakukan penangkapan, kondisi senjata sudah terisi peluru penuh dan siap ledak,” terang Kapolres Lotim, AKBP. M.Eka Fathurrahman, SH, SIK, Rabu, 2 Mei 2018.

Adapun beberapa barang bukti yang diamankan selain 2 pucuk senjata api rakitan, diamankan juga tiga butir amunisi kaliber 3,8, satu butir amunisi kaliber 7,62, sembilan butir kaliber 5,56 dan dua buah tas yang digunakan pelaku untuk menyimpan senpi rakitan beserta pelurunya.

Dari hasil pengembangan yang dilakukan, petugas juga berhasil menangkap Masmira di tempat terpisah. Pelaku Masmira juga ditangkap di rumahnya di Desa Batu Nampar Kecamatan Jerowaru. Dari tangan pelaku berhasil diamankan satu pucuk senpi rakitan, dua butir amunisi 3,8, satu butir amunisi kaliber, 7,62. Selain itu, turut juga diamankan alat untuk membuat senpi rakitan berupa las listrik dan beberapa alat lainnya.

Sementara, KBO Satreskrim Polres Lotim, Ipda. Suhirman, menjelaskan, terkait dugaan adanya keterlibatan oknum polisi dalam peredaran senpi rakitan itu. Aparat kepolisian saat ini masih melakukan pendalaman dan penyidikan. Adapun, nama-nama lain berdasarkan keterangan kedua pelaku sudah dikantongi dan saat ini masih dalam proses pengembangan lebih lanjut.

Sementara, pelaku Musmuliadi mengaku senpi itu tidak pernah digunakannya sejak dikuasai. Senpi hanya dibawa ketika hendak pergi ke bank dan membayar tanah, karena merupakan pengusaha jagung dan berbisnis jual beli tanah. Senpi itu dibawa untuk melindungi dirinya apabila sewaktu-waktu terjadi perampokan mengingat jumlah yang dibawanya nilainya cukup besar di atas Rp38 juta saat sekali menjual hasil pertaniannya maupun tanah. “Senpi itu hanya untuk melindungi diri saja, tidak digunakan untuk kepentingan yang lain,” kilahnya. (yon)