Dua Orang Meninggal, DBD di Mataram Tembus 630 Kasus

Ilustrasi Nyamuk DBD (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Mataram tercatat mencapai 630 orang pasien. Jumlah tersebut merupakan akumulasi kasus positif sesuai hasil uji laboratorium hingga akhir September 2020 lalu.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram, dr. Usman Hadi, menerangkan berdasarkan catatan pihaknya dari total tersebut dua orang pasien dinyatakan meninggal akibat DBD. “Ada juga kasus suspek atau yang menyerupai DBD, itu 251 pasien,” ujarnya, Jumat, 16 Oktober 2020.

Iklan

Diterangkan, dua kasus meninggal akibat DBD yang tercatat adalah pasien anak-anak. “Ada yang karena telah mendapat penanganan, ada yang karena kelainan sejak lahir,” jelasnya.

Menurutnya, keterlambatan penanganan pasien tersebut salah satunya dipengaruhi oleh pandemi virus corona (Covid-19) yang masih berlangsung saat ini. Di mana banyak masyarakat yang menunda mengunjungi fasilitas kesehatan karena khawatir tertular virus tersebut.

“Karena sekarang ini jaman covid, jadi takut ke Puskesmas, rumah sakit atau fasilitas kesehatan ini. Tapi ini dua-duanya (pasien yang meninggal) sempat dirawat di rumah sakit,” jelasnya.

Sebagai upaya pencegahan, Usman menekankan penerapan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) tetap menjadi kunci utama. Terlebih di tengah pandemi Covid-19 saat ini penerapan 3M dan perilaku hidup bersih dan sehat sekaligus dapat memperkecil potensi penularan.

Berdasarkan catatan pihaknya, data kasus DBD tahun 2020 diakui mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Termasuk untuk angka kematian, di mana pada 2019 lalu hanya ada satu orang pasien meninggal karena DBD di Mataram.

Kendati demikian, DBD di Mataram ditekankan belum masuk dalam kategori kasus luar biasa (KLB). Justru grafik yang disusun menunjukkan proyeksi pelandaian kasus DBD sampai dengan akhir tahun mendatang.

Untuk mendukung pelandaian kasus tersebut, pihaknya juga rutin melakukan kegiatan pengasapan (fogging). Kegiatan tersebut difokuskan pada kelurahan atau lingkungan yang warganya terkonfirmasi positif DBD.

Selain itu, pihaknya berharap adanya peran aktif masyarakat untuk menerapkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Mengingat pengasapan yang dilakukan terbatas untuk membasmi nyamuk dewasa, sedangkan jentin-jentiknya masih tetap bisa bertahan jika tidak ditangani.

“Dalam keluarga bisa menggerakkan anggota keluarganya supaya melakukan pembersihan dan penerapan pola hidup bersih dan sehat. Ini sangat penting dalam upaya menekan kasus DBD di kota ini,” tandas Usman. (bay)