Drama Humor, Berisi Pesan Moral

Mataram (Suara NTB) – Satu lagi pementasan seni penambah kemeriahan perhelatan MTQ Nasional ke-26 di NTB. Gelak tawa dari kalangan penonton mendadak tumpah tak tertahan ketika Jongos (tokoh dalam Teater Tradisi Kemidi Rudat) memasuki arena pementasan.

Pementasan yang dilakukan Sanggar Seni Setia Budi, Asal Desa Terengan, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU) itu didedikasikan untuk menghibur para peserta MTQ. Naskah yang dibawakan bercerita tentang perjuangan Kerajaan Puspasari dalam merebut kemerdekaan. Konon kerajaan yang dipimpin oleh Sultan Ahmad Mansyur ini dijajah oleh Kerajaan Ginterbaya. Di mana kerajaan ini dipimpin oleh Indra Bumaya. Sosok raja yang berkarakter antagonis dan merasa diri seolah-olah seperti raja diraja.

Iklan

“Naskahnya mereka juluki Kitab Prahara Ginterbaya. Naskah Melayu yang menjadi pakem pementasan mereka. Sejatinya pementasan ini berdurasi enam jam. Semalam suntuk. Tetapi sepertinya ini disesuaikan dengan waktu yang tersedia,” terang Murahim, M.Pd, di sela-sela pementasan di Arena MTQ Nasional, Kamis, 4 Agustus 2016 malam.

Murahim yang juga Dosen FKIP Unram ini mengangkat kesenian sebagai bahan kajian tesis berjudul Ekspresi Nilai Budaya Sasak dalam Teater Tradisional Kemidi Rudat yang disusunnya tahun 2010 lalu.

Menurutnya, nilai humoris dari kesenian ini terletak pada perilaku Jongos dan Adam dalam sebuah pementasan. Jongos merupakan hulubalang atau pengawal setia Raja Indra Bumaya, sementara Adam adalah tangan kanan Raja Sultan Ahmad Mansyur, sosok raja yang arif dan bijaksana.

“Nilai lucunya terletak pada mereka berdua ini. Karena hanya mereka tokoh teater yang boleh berinteraksi dengan penonton di saat berlangsungnya pementasan,” tuturnya.

Setiap pementasan teater komedi itu, wajib hukumnya para pemain mementaskan tari tradisional rudat Sasak. Pemimpin anak rudat yang kedudukannya di sebelah kanan (terhitung dari arah pemain) akan mengisi peran sebagai raja di Kerajaan Puspasari. Sementara, pemimpin barisan anak rudat di sebelah kiri nantinya akan melakoni tokoh Indra Bumaya, pemimpin kerajaan Ginterbaya.

“Kemidi itu maksudnya komedi, cuma karena pengaruh artikulasi lidah orang Sasak, penuturannya kemudian menjadi kemidi. Pemimpin barisan rudat sebelah kanan itu bersifat baik dan yang kiri itu raja yang jahat,” jelasnya.

Bahasa yang digunakan sebagai instruksi dalam atraksi tari tradisional menggunakan Bahasa Belanda. Menurut Murahim yang membedah kesenian tersebut menggunakan teori hermeneotika mengatakan, hal itu dilakukan sebagai bentuk kamuflase agar kesenian ini boleh dipentaskan.

Konon, pada masa sebelum kemerdekaan, tepatnya era di bawah tahun 1945, Belanda bersikap sangat protektif terhadap gerakan – gerakan sosial kemasyarakatan. Kesenian ini termasuk salah satu yang paling ditakutkan berkembang oleh kaum penjajah. Belanda sangat mengantisipasi dan mengatensi pergerakan yang timbul di kalangan masyarakat.

“Ini pementasan drama humor tetapi berisi. Penggunaan Bahasa Belanda bukan berarti tidak ada alasan. Itu dilakukan untuk membangkitkan kesan di kalangan orang Belanda, bahwa supaya aktivitas tari yang dilakoni masyarakat itu dianggap sebagai bagian dari kegiatan latihan perang,” ujarnya.

Selain bahasa, kostum seragam yang digunakan pun demikian. Segala pernah-pernik yang terpasang sebagai aksesoris para penari rata – rata merupakan atribut kebesaran pasukan belanda. Atribut itu digunakan agar mereka yang dianggap sedang latihan perang itu juga sepenuhnya dianggap akan mendukung Belanda. Mereka menggunakan atribut supaya dianggap sebagai dari tentara binaan Belanda.

“Kesenian ini menjadi sarana untuk menggelorakan semangat juang masyarakat. Pesan – pesan, termasuk menyangkut tentang syiar Islam tersampaikan di akhir-akhir pementasan. Maksudnya supaya tidak ketahuan orang Belanda seperti yang saya katakan tadi,” tegasnya.

Seperti halnya yang dilakukan para tokoh yang mementaskan teater tradisi itu. Pemeran Raja Sultan Ahmad Masyur yang dilakoni oleh Zakaria misalnya, menyampaikan penggalan ayat dalam surat Hujarat. Penggalan ayat suci yang menceritakan tentang kesamaan kedudukan antara manusia di mata Tuhan itu menjadi inti sari pesan pementasan yang dilakukan. Dalam surat tersebut dijelaskan yang tidak ada yang membedakan kedudukan umat manusia di mata Tuhan kecuali Ketakwaannya.

“Itulah yang menjadi pesan paling inti dari pementasan kita. Selain itu ada juga ayat yang mengingatkan bagi kita semua tentang kematian. Ayat yang kira – kira maknanya setiap sesuatu yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Itu supaya kita senantiasa meningkatkan ketakwaanya dan selalu mengingat bahwa diri kita akan mati,” terang Zakaria, pimpinan Sanggar Setia Budi, Terengan.

Kesenian yang kini dilakoni keturunan generasi ke-4 di KLU ini memiliki nilai keunikan tersendiri. Masing-masing pemeran akan mewarisi peran yang dilakoninya saat ini kepada keturunannya. Kepercayaan yang terbangun, keturunan tokoh Jongos dari generasi ke-4 ini kelak akan menjadi tokoh Jongos juga pada pementasan yang dilakukan oleh generasi selanjutnya.

“Itu terjadi secara natural dan mungkin alamiah. Seperti saya yang sekarang menjadi tokoh raja. Karena dulu kakek saya seperti yang saya lakoni sekarang ini. Begitu juga Jongos, Adam dan Tuan Putri. Yang memerankan tuan putri ini dulu ibunya memerankan tokoh seperti dia sekarang ini,” jelasnya.

Selain keunikan dengan kepercayaan seperti itu, para awak teater ini juga masih mempertahankan kepercayaan yang bersifat mistis. Bahwa setiap pementasan, panggung yang mereka tempati harus menghadap ke arah selatan. Filosofi utara –  selatan masih berlaku bagi mereka, sehingga diposisikan menjadi sesuatu yang harus dipatuhi.

“Karena kalau tidak begitu, pasti ada terjadi kesalahan pada pementasan. Sekecil apapun dan itu sudah pasti. Sebab, kalau selain menghadap selatan, kita pasti membentur posisi gunung atau bahkan sebaliknya membelakangi gunung,” tandasnya.  (met)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here