Dr. Zul : Karpet Merah untuk Investor, Tapi Jangan Korbankan Masyarakat

Kawasan Mandalika, salah satu destinasi di NTB yang menjadi tempat investasi yang menarik banyak peminat. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc mengatakan Pemda memberikan karpet merah bagi investor yang menanamkan investasinya di daeraeh ini. Namun, masuknya investasi bukan berarti membuat masyarakat jadi korban.

Hal tersebut dikatakan gubernur menanggapi keluhan dari masyarakat Dompu kaitan dengan kehadiran pabrik gula di Kecamatan Pekat. Gubernur mengatakan, semangat Bupati Dompu dengan berdirinya industri olahan tebu di sana karena ingin masyarakatnya makmur dan  sejahtera.

Iklan

‘’Kalau ada pabrik gula tentu menghadirkan kemanfaatan yang banyak bagi masyarakat kita. Jadi, investasi itu harus dihargai, diberi karpet merah di daerah kita. Kalau kita ingin menyelesaikan pengangguran dan kemiskinan,’’ kata gubernur pada acara Jumpa Bang Zul dan Umi Rohmi di Halaman Kantor Gubernur, Jumat, 2 November 2018 pagi.

Hadir Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, Sekda NTB, Ir. H. Rosiady H. Sayuti, M. Sc, Ph.D, Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemprov NTB dan masyarakat.

Meskipun Pemda memberikan karpet merah kepada investor yang ingin menanamkan investasi di NTB, kata Dr. Zul, bukan berarti masyarakat menjadi korban. Justru, Pemda  ingin memanjakan investasi, tetap kepentingan masyarakat yang paling utama.

‘’Jangan sampai atas nama investasi masyarakat kita menderita. Itu yang keliru,’’ kata Dr. Zul.

Oleh karena itu, jika betul masyarakat di sekitar pabrik gula Dompu menjadi korban. Dr. Zul meminta Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) dan Sekda untuk sama-sama bersamanya menemuai Kepala Kanwil BPN NTB.

‘’Kebetulan Kepala BPN baru dan kenal lama juga. Kalau ini clear. Kita ingin masyarakat bahagia, senang, investor juga senang. Dicari win-win solutions,’’ harap gubernur.

Terkait dengan keberadaan pabrik gula di Dompu, Dr.Zul mengatakan bahwa ia membaca sebuah tulisan, pabrik gula yang ada di sana ternyata hanya mengolah gula impor. Menurut gubernur, jika informasi itu benar maka keberadaan pabrik gula tersebut kurang tepat.

‘’Itu menurut saya agak kurang tepat. Nggak sesuai dengan semangat yang diinginkan Pak Bupati. Jangan sampai tanah sudah dibebaskan ternyata dia sudah dapat keuntungan dari impor gula. Kemudian diolah di sana. Tapi tebu kita juga nggak dipakai,’’ katanya.

Bahkan, kata Gubernur dirinya pernah melihat secara  langsung di  lapangan. Ternyata banyak masyarakat yang menebang tanaman jambu mete kemudian ditanami tebu. “Tebunya juga ndak dibayar. Ini juga jadi PR serius,”ucapnya.

Selain persoalan sengketa lahan antara masyarakat PT. Sukses Mantap Sejahtera (SMS) yang mendirikan pabrik gula di Dompu. Masyarakat juga menanyakan perlunya pengiriman guru ke luar negeri. Jika sebelumnya, sudah dikirim belasan anak muda NTB ke luar negeri, para guru SMA/SMK yang ada di NTB juga menginginkan agar mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri.

Kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) yang mengirimkan para pemuda – pemudi NTB belajar di luar negeri rupanya memantik antusiasme dari warga NTB. Hal ini tampak dari banyaknya warga yang berharap program ini diperluas jangkauannya.

Salah guru  SMK 1 Labuapi, Budiman  mengutarakan harapannya agar ada program pendidikan ke luar negeri bagi pendidik. Para pendidik berharap ada  beasiswa S2/S3 untuk guru di luar negeri yang bisa difasilitasi oleh Pemprov NTB.

Menanggapi hal tesebut, Gubernur mengatakan di media sosial banyak warga  yang menaruh minat untuk mengikuti program ini. “Banyak pertanyaan di media sosial agar lebih banyak guru yang dikirimkan, guru-guru ini punya pengalaman internasional, saya kira ini akan kita akomodir dengan Kepala Dinas,” ujar Gubernur.

Pemprov NTB bisa memprogramkan dengan program khusus, beasiswa untuk guru-guru SMA/SMK  agar mereka bisa belajar di luar negeri. Gubernur mengatakan ada salah satu universitas di Malaysia yang menawarkan program beasiswa untuk anak-anak NTB belajar di negeri jiran. Menurut Gubernur, biaya hidup di Malaysia dengan di Lombok kurang lebih sama.

Sementara itu, Imran Jahri dari Kabupaten Lombok Utaramengutarakan pertanyaan mengenai beasiswa bidik misi untuk masyarakat korban gempa. “Apakah ini hoaks apa tidak? Karena sudah ada yang mengumpulkan syarat-syarat tapi belum ada tindak lanjut, sampai ada yang sudah mendaftar karena terlalu lama tidak ada kejelasan akhirnya memutuskan menikah,” seru Imran.

Menanggapi pertanyaan ini, Gubernur menegaskan bahwa program bidik misi adalah program yang nyata karena sudah ada 5.144 mahasiswa yang mendapatkan penyerahan beasiswa langsung dari Presiden Jokowi sendiri.

Hanya saja, Gubernur menegaskan agar jangan sampai ada masalah dalam verifikasi data calon penerima program bidik misi ini. “Namanya siapa, alamatnya di mana? Kalau memang tidak ada lagi alamat yang secara fisik ada, ada rekomendasinya bahwa orang itu betul aja di situ jangan sampai nanti ada beasiswanya tapi orangnya enggak ada,” kata Gubernur.

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah menegaskan, syarat untuk meraih program bidik misi ini juga harus jelas latar belakang akademisnya. “Kuliah di universitas mana, jadi dia harus mendaftar dan terverifikasi di universitas yang dituju baru beasiswa bidik misi di approved,” katanya. (nas)