DPK akan Identifikasi Arsip Tokoh Penting NTB

Kepala DPK NTB, Julmansyah saat membaca arsip yang  mencatatkan riwayat Dr. Lalu Mala Sjarifuddin. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB Julmansyah, M.Ap menjadikan arsip sebagai bagian dari program prioritasnya. Instansinya akan mulai melakukan pendataan dan mengarsipkan dokumen dan data tokoh penting di Provinsi NTB.

Tujuannya, kata Julmansyah,  tokoh tokoh NTB dan tokoh nasional asal NTB yang sudah wafat, akan bisa dibuktikan dedikasi dan segala prestasinya jika ada arsip. “Seseorang tidak bisa begitusaja mengklaim si A ini tokoh hebat, si B tokoh nasional  hanya lewat lisan. Beda kalau ada arsipnya,” tegas Julmansyah, menjelaskan pentingnya dokumen apapun untuk arsip.

Iklan

Data-data tokoh dimaksud sebagian sudah dilakukan rekapitulasi, sebagian masih dalam proses pendataan. Sehingga perlahan lahan bersama timnya akan terus melakukan identifikasi.

Identifikasi dimaksud bisa melalui instansi pemerintah atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD), juga bisa melalui keluarga dan keturunan para tokoh atau lembaga lembaga tertentu. Dokumen dan data tokoh seperti foto, riwayat kegiatannya yang tercatat, banyak juga yang tersimpan di keluarga dan keturunannya.

Relatif mudah jika arsip itu ada di instansi lain, namun tantangannya ketika dalam penguasaan anggota keluarga. “Untuk itu nanti harus ada kerelaan dari pihak keluarga menyerahkan data data yang kita minta terkait tokoh itu,” kata Julmansyah.

Ia akan memberi pengertian kepada pihak keluarga agar mau menyerahkan data yang diminta tersebut. Bahkan Negara atau instansinya juga akan menyiapkan alokasi anggaran khusus untuk pengambil alihan atau dalam nomenklatur dana tali asih. “Karena memang ada di aturannya, alokasi anggaran sekian persen untuk pengambil alihan arsip tokoh,” jelasnya.

Dari segi regulasi, tidak ada alasan untuk tidak menyerahkan arsip tokoh yang diminta. Ia mengutip Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan. Isinya,  mewajibkan lembaga kearsipan sesuai dengan wilayah kewenangannya untuk menjamin kemudahan akses arsip statis bagi pengguna arsip untuk kepentingan pemanfaatan, pendayagunaan, dan pelayanan publik dengan memperhatikan prinsip keutuhan, keamanan, dan keselamatan arsip.

Doktor Pertama dari NTB

Sebelumnya, Julmansyah memberi gambaran tentang arsip tokoh, salah satunya tentang sejarah Doktor pertama di NTB. Dr. Lalu Mala Sjarifuddin, adalah satu tokoh besar NTB kelahiran Empang Sumbawa yang nyaris terlupakan. Disebut sebagai tokoh Otonomi Daerah, karena menulis tentang itu pada tahun 1979.

Dalam catatan Julmansyah, Lalu Mala Sjarifuddin  diketahui pernah menjadi Kepala Inspektorat Provinsi NTB di era 70 atau 80-an. Dikenal sangat disiplin dalam birokrasi NTB di eranya.

Lalu Mala – begitu sapaan akrabnya – menyelesaikan Pendidikan Doktoral Sorbon University, suatu universitas terkemuka di Eropa tahun 1979 dengan Disertasi L’Administration Locale En Indonesie.

“Disertasi beliau 1979 mengupas tentang Otonomi di Indonesia dan bicara tentang Otonomi desa dan otonomi daerah,” sebut Julmansyah.

Disertasi dengan tebal 589 halaman, diketik dengan komputer saat itu. Padahal teknologi komputer mulai massif di Indonesia tahun 1990-an. Bahkan Lalu Mala satu almamater dengan Prof. Dr. Daud Joesoef mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di awal Orde Baru.

Bagi Julmansyah, Dr. Mala ibarat berlian dalam lumpur, yang butuh disampaikan pikiran pikiran cerdasnya pada generasi sekarang. Pendiri Fakultas Hukum Universitas Mataram dan doktor pertama dari NTB.

Maka kaitan dengan itu, bagi Julmansyah, arsip adalah riwayat penting untuk membaca kembali sejarah tentang tokoh penting daerah. Irisannya adalah ilmu pengetahuan. “Sayang kalau disertasi ini tidak diterbitkan, bukan hanya sebagai bentuk penghargaan kita pada pikiran tokoh tapi cara kita merawat peradaban,” tutupnya. (r)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional