DPAD Dompu Gelar SHM Untuk Pengembangan Perpustakaan Desa

Dompu (Suara NTB) – Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi meningkatkan minat baca dan menyelamatkan arsip, tapi kini telah berkembang berbasis internet dan teknologi (IT). Kehadiran perpustakaan Desa di Dompu juga telah meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan IT. Kedepan, perpustakaan Desa dapat dikembangkan dari 4 Desa menjadi 10 Desa.

Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kabupaten Dompu menggelar Stakeholder meeting (SHM) di hotel An Nisa Dompu, Rabu, 20 September 2017 lalu guna membangun dukungan dan komitmen sinergi multistakeholder untuk pengembangan ekosistem transformasi perpustakaan. Hadir dalam pertemuan ini perwakilan dari Dinas Dikpora, Dinas Komunikasi dan Informatika, Coca Cola fundation, perpustakaan Desa dan berbagai elemen.

Iklan

Ardiansyah saat memaparkan program dan perkembangan perpustakaan Desa di Dompu.

Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Dompu, Rohyani, SH saat membuka SHM, mengungkapkan, pembentukan perpustakaan Desa di Dompu berawal dari hasil kerjasama dengan Cocacola fundation yang ditandatangani Bupati, 14 April 2016 lalu di Denpasar Bali bersama Perpusru. Di Dompu ada 4 Desa yang dibentuk perpustakaan Desa yaitu Desa Manggenae, Wawonduru, Cempi Jaya, dan Desa Pekat. Selain dilakukan pendampingan, Perpustakaan Desa juga mendapatkan bantuan berbagai fasilitas bahan bacaan, perangkat komputer dan jaringan internet.

Sehingga di Perpustakaan dikembangkan berbagai ketrampilan dan pelatihan. Pada Juni 2016 lalu dilakukan kursus internet dan komputer gratis yang diikuti oleh sekitar 600 orang peserta bekerjasama dengan STIE Yapis sebagai tutor dan piagam ditandatangani oleh Bupati. Di perpustakaan Desa sendiri juga dikembangkan berbagai ketrampilan, sehingga tingkat kunjungan meningkat. Perpustakaan Desa Manggenae Kecamatan Dompu bahkan berhasil meraih juara 2 di NTB untuk perpustakaan Desa dan dari Lombok Barat telah melakukan studi banding terkait kesuksesan perpustakaan Desa ini.

Tahun 2018 mendatang, lanjut Rohyani, akan dikembangkan 6 perpustakaan Desa sehingga menjadi 10 Desa. Yaitu Desa Kempo Kecamatan Kempo, Soriutu Kecamatan Manggelewa, Malaju Kecamatan Kilo, Lepadi Kecamatan Pajo, Marada Kecamatan Huu, Soritatanga Kecamatan Pekat. Namun pengembangan 6 perpustakaan Desa ini akan menunggu arahan dari PT Telkom yang memiliki jaringan internet. “Desa perpustakaan ini harus ada jaringan internetnya,” ungkapnya.

Rohyani mengungkapkan, perpustakaan Desa ini bagian dari mendukung program pemerintah yang memulai dari Desa untuk dimajukan pembangunan. Ini terlihat dari program ADD dan DD yang cukup besar, Kampung KB oleh BKKBN, Desa demokratis oleh KPU dan berbagai kegiatan lain. Perpustakaan Desa ini tujuannya untuk mengatasi kemiskinan informasi dan meningkatkan pendidikan, kesehatan dan pengembangan ekonomi masyarakat.

“Perpustakaan selama ini hanya dua fungsi yaitu meningkatkan minat baca, menyelamatkan arsip. Sekarang telah dikembangkan tekhnologi berbasis IT,” jelasnya.

Dengan adanya perputakaan Desa diharapkan, masyarakat berbondong – bondong ke perpustakaan. Karena berbagai informasi didapat melalui jaringan informasi dan internet. Selama ini masyarakat hanya menggunakan sistem manual dalam berdagang, tapi karena sering ke perpustakaan akan banyak kontribusi yang bisa diambil.

“Sangat kami harapkan kontribusi dari bapak ibu sekalian terutama pada bapak ibu pengelola perpustakaan ini. Bagaimana perpustakaan Desa pada saat musbangdus dan musbangdes, kegiatan yang melibatkan masyarakat Desa bisa diusulkan. “Bagaimana pun juga keberadaan pemerintah, bagaimana meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat,” katanya.

Ardiansyah, SIP dari pendamping Perpusru untuk Kabupaten Dompu mengungkapkan, ada peningkatan kualitas masyarakat dalam perpustakaan Desa. Perpustakaan Desa yang telah dikembangkan di Indonesia ini awalnya hanya 34 perpustakaan dan berkembang menjadi 82 Desa/Keluarahan. Kini telah terbentuk di 334 Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Perpustakaan Desa ini difokuskan pada kegiatan belajar bagi pemuda, perempuan dan pengusaha mikro. Pada kegiatan perpustakaan ini melibatkan masyarakat, pelatihan, peningkatan layanan internet dan advokasi. “Untuk ketiga ini di Kabupaten sudah berjalan, meski masih lamban,” katanya. (ula/*)