DP3A Sesalkan Terjadinya Kasus Pernikahan Usia Anak

Hj. Dewi Mardiana Ariany. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram, Dra. Hj. Dewi Mardiana Ariany menyesalkan terjadinya kasus pernikahan usia anak. Pihaknya tidak menginginkan terjadi pernikahan anak karena beresiko terhadap kesehatan maupun psikis.

“Kita sangat sesalkan itu terjadi,” kata Dewi ditemui di ruang kerjanya, Senin, 14 September 2020. Pernikahan usia anak sebelumnya viral di media sosial. Kasus ini terjadi di Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya. IW (20) diketahui menikahi anak usia 14 tahun.

Iklan

Ditambahkan Dewi, masa pandemi Covid-19 anak – anak diharapkan untuk belajar. Sepengetahuannya, guru telah memberikan materi pembelajaran baik melalu dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring).

Akses sambungan internet selama ini dikeluhkan oleh orangtua maupun siswa telah direspon oleh pemerintah. Sambungan internet gratis telah dipasang di kelurahan sebagai sarana belajar anak – anak.

“Kan sudah ada subsidi. Di kelurahan sudah bisa mengakses karena sudah ada dananya. Mereka bisa mengakses lewat sana,” terangnya.

Masa pandemi bisa saja melatarbelakangi anak – anak memilih untuk menikah. Waktu panjang di rumah dijadikan kesempatan untuk bermain media sosial untuk berkomunikasi dengan lawan jenisnya. “Iya, bisa saja karena pandemi ini,” ucapnya.

Berdasarkan data perkawinan anak dengan rentang usia 19 tahun untuk laki – laki dan 17 tahun untuk perempuan dari Kantor Kementerian Agama Kota Mataram. Pada tahun 2017 mencapai 219 kasus. Jumlah ini meningkat drastis di tahun 2018 mencapai 283 kasus. Dewi tidak menyebutkan detail perkembangan kasus pernikahan anak di tahun 2019 maupun sampai Agustus 2020.

Dijelaskan, faktor perkawinan usia anak terjadi dipicu oleh ekonomi serta sosial budaya. Padahal menikah di usia anak berisiko terhadap kesehatan alat reproduksi serta rentan terjadi kekerasan fisik.

“Kalau rahimnya belum siap melahirkan berisiko terjadinya kanker rahim. Anak yang tumbuh juga akan stunting,” jelasnya.

Belum dewasanya pemikiran serta tidak stabilnya ekonomi akan memicu perselingkuhan yang menimbulkan pertengkaran. “Ini bisa melahirkan kemiskinan struktural,” terangnya.

Mencegah praktik pernikahan dini di Mataram melalui sosialisasi yang melibatkan tokoh agama serta tokoh masyarakat. Di era pandemi diakui Dewi, menyulitkan proses sosialisasi ke masyarakat. Pun diskusi lewat webinar tidak efektif. Salah satu caranya adalah mendatangi dari satu pintu ke pintu lainnya. (cem)