Dorong Kemampuan Menulis Guru Ponpes, Kemenag Loteng Gelar Lomba Menulis Cerita Anak

H. Ahmad Mujahidin (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Tengah (Loteng) menggelar lomba menulia cerita anak khusus bagi guru maupun pengasuh pondok pesantren (ponpes) yang ada di daerah ini. Selain sebagai sarana dakwah nantinya, lomba tersebut digelar juga untuk mendorong kemampuan atau kreativitas guru atau pengasuh ponpes dalam menulis, khususnya cerita anak. Cerita-cerita terbaik nantinya akan dikumpulkan dan dicetak dan akan dijadikan buku bacaan wajib di sekolah maupun ponpes di lingkungan Kemenag Loteng.

“Selain itu penulis cerita terbaik nantinya juga akan disiapkan hadiah menarik dari Kemenang Loteng,” sebut Kasi. Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag Loteng, H. Ahmad Mujahidin, kepada Suara NTB, Kamis, 30 September 2021.

Iklan

Untuk tema cerita, ujarnya, bebas, tetapi diutamakan yang berkaitan dengan ajaran baik dalam kehidupan. Sesuai tuntutan dan ajaran agama Islam tentunya, sehingga cerita tersebut bisa menjadi contoh bagi anak-anak.

Meski dalam bentuk cerita, referensinya harus jelas. Bukan cerita fiksi dan mengambil kitab-kitab agama Islam sebagai sumber referensinya. “Jadi cerita yang dibuat bukan cerita fiksi. Tetapi cerita yang punya referensi jelas dari kitab-kitab tentang ajaran agama Islam,” terangnya.

Karena ini cerita anak maka bahasa yang digunakan juga bahasa anak yang mudah dipahami oleh anak-anak. Dengan begitu makna dari cerita baik yang terkandung dalam cerita tersebut bisa diserap dan dicerna dengan baik oleh anak-anak sebagai tuntunan hidup dalam kesehariannya.

“Untuk penulisan cerita kita syaratkan yang singkat dan jelas. Cukup 8 sampai 10 halaman saja,” imbuhnya.

Tulisan sudah diterima paling lambat 15 Oktober mendatang. Diserahkan ke panitia lomba di kantor Kemenag Loteng dan elanjutnya akan dinilai dan ditentukan cerita-cerita terbaik nantinya.

Lebih lanjut Ahmad mengatakan, kalau bicara manfaat dari lomba tersebut secara tidak langsung memang tidak nampak. Tapi akan dirasakan manfaatnya tidak hanya bagi guru atau pengasuh ponpes. Tetapi juga bagi para siswa dan peserta didik yang akan memperoleh bacaan baik, karena cerita yang dilombakan nantinya akan dijadikan dalam bentuk buku.

“Jadi dari sisi guru atau pengasuh ponpes manfaatnya bisa sebagai ajang mengasah kemampuan menulis cerita sekaligus sarana dakwah bagi anak-anak. Sehingga cerita-cerita yang ditulis harus kontekstual dan sesuai dengan ajaran agama Islam,” tutupnya. (kir)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional