Dongkrak Pasar, Perajin Belajar Pengembangan Desain Secara Swadaya

Sejumlah perajin belajar secara swadaya pengembangan desain dari kerajinan kayu di bengkel kerajinan milik Bing Gianto di Ampenan, Mataram. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Para perajin, khususnya perajin kayu ingin mencuri perhatian pasar. Agar tetap eksis, apalagi di tengah pandemi Covid-19 dan persaingan yang ketat dengan para perajin dari luar NTB. Berbagai cara dilakukan, salah satunya pengembangan ide untuk membuat produk bernilai jual tinggi.

Sejumlah perajin di Pulau Lombok berinisiatif mengembangkan kemampuan desain hasil kerajinan dengan belajar bersama secara swadaya pada ahlinya. Para perajin ini menimba ilmu dari maestro kerajinan kayu gambol jati, Ir. Bing Gianto. Selasa, 5 Januari 2021, kegiatan belajar mengajar antar perajin ini berlangsung di gudang kerajinan milik Bing Gianto, Manajer Pengelola Kantor Perwakilan Dagang Jawa Timur di NTB ini.

Para perajin ini membedah dan mendiskusikan beberapa persoalan yang dialami. Terutama tentang kreatifitas kerajinan kayu. Bing Gianto diketahui adalah desainer kerajinan kayu yang produknya bernilai tinggi. Diantaranya, meja kayu berukuran besar bertema Bumi Gora yang mejeng ke Istana. Di beli oleh Presiden SBY. Ada juga meja kayu jati berukuran besar, tema tembok besar China. Selain meja kayu jati tema garuda.

Bing Gianto adalah seniman yang kerap menuangkan ide-idenya tentang kearifan lokal ke sebuah karya seni, kerajinan kayu. Memanfaatkan limbah akar-akar kayu tebangan yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap sebagai limbah. Di tangan Bing Gianto, limbah kayu bisa jadi kerajinan bernilai jual tinggi. Diantara beberapa perajin yang datang belajar secara swadaya ini adalah Kadri, perajin ketak dari Kabupaten Lombok Tengah. Dan Bunga Rosa, perajin rajut dan daur ulang sampah.

Bunga Rosa mengatakan, para perajin membutuhkan pembelajaran pengembangan desain dan pemasaran dari ahlinya. “Masih banyak perajin kita yang belum mendapatkan perhatian. Karena itu, kita berinisiatif belajar sendiri kepada yang memang ahlinya,” katanya. Menurutnya, ide untuk pengembangan desain saat ini mutlak. Agar produk kerajinan yang dihasilkan mendapat perhatian dari pasar.

Kadri menambahkan, sebagai perajin ketak, tentu produk yang dihasilkan tidak saja produk-produk yang biasanya dibuat saat ini. Ia ingin mendapatkan pemahaman/ide untuk mengawinkan kerajinan ketak dengan kerajinan kayu. “Apa yang bisa kita kombinasikan kerajinannya. Dan bagaimana strategi pemasaran. Ini yang kita harapkan saat ini,” kata Kadri.

Sementara Bing Gianto menekankan pentingkan ide dan kreativitas untuk pengembangan desain saat ini, agar sebuah produk bisa laku di pasaran. Menurutnya, membuat produk tidak hanya sebatas hasil karya biasa. Tetapi harus memunculkan keunggulan dibanding produk lain. “Produk harus memiliki nilai jual, keunggulan yang kita munculkan. Bagaimana membuat produk kerajinan bersama yang mencerminkan Mandalika misalnya. Produk itu harus punya identitas. Sehingga menarik bagi orang membelinya,” jelas Bing Gianto.

Selain itu, untuk pemasaran, menurut Bing Gianto, produk-produk yang baru muncul jangan langsung di publish sebelum ada hak patennya. Apalagi dipublish melalui media sosial dan internet. Dikhawatirkan , desain produk tersebut justru dicaplok / ditiru orang lain kemudian dibuat secara massal. “Buat produk itu spesial. Jangan baru ketemu idenya, langsung dipamerkan di media sosial. Bisa di caplok sama orang. Kemudian tidak semua hasil kerajinan selalu berangkat dari ketersediaan modal. Buat dulu produknya, punya cirri khas. Dengan sendirinya pasar juga akan datang,” demikian Bing Gianto. (bul)