Angin Kencang Rusak Puluhan Rumah di Dompu

Tampak rumah salah seorang warga rusak diterjang angin kencang, Rabu,  11 Desember 2019. (Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Pemukiman warga di Desa Wawonduru, Bakajaya, Bara dan Kelurahan Monta Baru Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu terdampak bencana angin kencang, Selasa,  10 Desember 2019. Data sementara, 63 rumah rusak dengan 15 unit diantaranya masuk kategori parah.

Kepala Pelaksana BPBD Dompu, Drs. Imran M Hasan melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik, Marwan dikonfirmasi Suara NTB usai pendataan lapangan, Rabu,  11 Desember 2019  menyampaikan, paska angin kencang tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD langsung meninjau beberapa wilayah terdampak.

Dalam proses itu tercatat 150 rumah warga rusak sebagaimana laporan masing-masing dusun. Akan tetapi, setelah dilakukan verifikasi ulang ternyata ditemukan kekeliruan data sehingga memaksanya harus mendata langsung ke lapangan. “Kalau berdarsarkan informasi yang sudah kita rampungkan sekarang, sementara 63 rumah yang rusak,” terangnya.

Sebanyak 63 unit rumah terdampak itu baru data sementara yang sudah ditinjau langsung dengan tingkat kerusakan. Di mana 15 unit diantaranya masuk kategori parah. Karena kerusakan tidak saja ditemukan pada bagian atap melainkan tembok bangunan roboh akibat angin kencang.

Meski dampak bencana tahunan ini lebih parah dari insiden sebelumnya di Huu, beruntung tak ada korban jiwa atau luka-luka yang ditimbulkan. “Untuk fasilitas umum ada juga yang terdampak, seperti masjid dan kendornya kabel tegangan tinggi PLN di Wawonduru,” ujarnya.

Disinggung penanganan dini terhadap para korban, Marwan menjelaskan, sebetulnya pagi ini (kemarin) BPBD bermaksud turun lapangan untuk penyaluran bantuan logistik. Akan tetapi perbaikan data korban terdampak yang diminta pada aparatur desa tak kunjung disampaikan. Oleh TRC kemudian diputuskan fokus pada pendataan terlebih dahulu baru penyaluran bantuannya.

“Kemarin kita minta Desa/Kelurahan data semua korban pagi ini sudah dilaporkan. Tapi ternyata sampai sekarang tidak ada, kita ke kantornya baru mau diketik. Jadi terpaksa kita jemput bola dan tahan dulu pendistribusi logistik,” keluhnya. (jun)