APH Diminta Ringkus Otak Perambahan Hutan di Lingkar Bendungan Tanju

Wakil Ketua DPRD Dompu, Jamaludin (Suara NTB/jun)

Advertisement

Dompu (Suara NTB) – Wakil Ketua DPRD Dompu, Jamaludin, S.Sos, meminta Aparat Penegak Hukum (APH) segera meringkus otak di balik perambahan hutan di lingkar Bendungan Tanju. Pasalnya, kondisi hutan di wilayah ini sudah sangat memprihatinkan serta mengancam keberlangsungan bendungan dan infrastruktur jalan. Otak perambahan dimaksud, yakni mereka yang menjual kawasan hutan untuk dikelola warga menanam jagung.

“Ini baru di Tanju belum di tempat lain,” keluhnya menjawab wartawan, Selasa,  19 November 2019. Praktik semacam ini diketahuinya setelah mendengar langsung pengakuan warga sekitar. Di mana oknum-oknum yang mengatasnamakan ketua kelompok tertentu itu bebas mengambil kawasan hutan lalu menjualnya ke sejumlah petani. Per hektare paling rendah dipatok Rp7 juta.

Setelah laku terjual baik ke petani lokal maupun luar daerah, mereka tinggal bergeser ke kawasan hutan lain dengan modus serupa untuk meraup keuntungan lebih. Cara kerjanya pun terbilang mudah, yakni tinggal merambah sedikit saja kawasan pada titik-titik batas tertentu sebagai bukti lahan tersebut milik mereka yang siap dijual.

“Bayangkan orang dari Ncera Bima juga datang beli dengan harga Rp7-Rp10 juta. Itu pengakuan mereka bahkan orang Tanju sendiripun bayar kepada yang ngaku diri sebagai ketua kelompok ini,” ungkapnya.

Pagi ini (kemarin), lanjut Jamaludin, pihaknya mendapat laporan baru akan adanya pembagian lahan di lingkar Bendungan Tanju, tepatnya di Doro Kariro. Informasi itu lantas dilanjutkannya ke KPH untuk disikapi. Sebab ketika dibiarkan berlanjut terowongan besar penghubung antar bendungan sangat potensial tertimbun.

Langkah pencegahan semacam ini menurutnya penting di tengah keterbatasan kewenangan anggota dewan untuk mengambil tindakan terhadap pelaku perusak hutan. Disamping itu, juga ikut mendorong semua elemen untuk ambil bagian dalam memperbaiki kerusakan hutan. Bagi yang sudah terlanjur ditebangi misalnya, harus segera direboisasi kembali dengan menanam tanaman keras supaya tidak terjadi erosi tanah.

“Walaupun tidak semuanya minimal di sepanjang jalan itu maunya saya ditanam 10-20 meter. Pertama untuk menahan erosi supaya jalan itu terlindungi. Kalau hutan sudah seperti ini mau diwariskan apa untuk anak cucu kita nanti,” pungkasnya. (jun)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.