OPAL DKP Dompu Jadi Media Pembelajaran Masyarakat Sekitar

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu, Ir. H. Rusdin, MSI (kanan) bersama Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Ir Aminullah (tengah) dan M Fagih, S.Pt (kiri) foto bersama di ruang penyiangan bibit OPAL Dinas Ketahanan Pangan Dompu, Rabu, 13 November 2019. (Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Program Obor Pangan Lestari (OPAL) yang memanfaatkan halaman kantor Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Dompu menjadi media pembelajaran bagi masyarakat setempat. Tanaman yang dibudidaya dengan media polibek dan mulai berbuah itu dibagikan ke masyarakat Desa Matua yang berada di sekitar kantor (DKP).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu, Ir H. Rusdin, MSI kepada Suara NTB di kantornya, Kamis, 14 November 2019 mengungkapkan, program pemanfaatan halaman kantor untuk tanaman sayur dan bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat menjadi media pembelajaran. Obor Pangan Lestari (OPAL) Dinas Ketahanan Pangan membudidaya berbagai jenis sayur-sayuran dan tanaman pangan yang dibutuhkan ibu rumah tangga. Seperti tanaman cabe, terong, kol, sawi, daun seledri, kangkung, tomat, dan berbagai jenis sayuran serta tanaman pangan yang dibutuhkan rumah tangga.

Tanaman yang dibudidaya di media polybag dan sudah mulai besar serta berbuah ini, sebagiannya telah dibagikan kepada masyarakat sekitar kantor Desa Matua Kecamatan Woja. Selain bisa mendapatkan tanaman sayur yang dibutuhkan, pembagian itu diharapkan menjadi pembelajaran bagi masyarakat. “Kita sudah bagi kepada masyarakat sebagian tanamannya kemarin. Kita berharap, OPAL ini menjadi tempat pembelajaran bagi masyarakat sekitar kantor ini,” kata H. Rusdin.

Program OPAL, kata H. Rusdin, membuat suasana kantor semakin hidup. Pegawai di kantor juga diharapkan bertanggungjawab atas OPAL dengan memperhatikan tumbuh kembang tanaman, mulai dari proses penyiapan media tanam, penyiangan bibit, budidaya tanaman hingga proses produksi. “Kalau untuk masyarakat sekitar kita bagikan, tapi kalau ke pegawai ketahanan pangan diharuskan mereka membayar,” terangnya.

OPAL, kata H. Rusdin, sebelumnya juga dilaksanakan di kelompok masyarakat hingga saat ini. Pada kelompok masyarakat lebih dikenal dengan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dengan sasaran kelompok wanita tani. Program ini sudah lama berjalan dengan harapan, masing-masing anggota dapat memenuhi kebutuhan pangan di rumah tangganya. “Ketika ada kelebihan produksi bisa dijual ke tetangga atau dibawa ke pasar. Jadi ada tambahan penghasilan bagi ibu rumah tangga,” ungkapnya.

Program dengan sasaran rumah tangga dan penambahan gizi serta disertivikasi pangan oleh pemerintah kini menjadi bagian dari upaya pengentasan kasus stunting dan kemiskinan. Sehingga sasaran program diarahkan kepada Desa dengan tingkat kemiskinan dan stuntingnya tinggi. Program ini tidak hanya dalam bentuk bantuan, tapi juga diberikan pendampingan kepada kelompok.

Untuk kelompok KRPL, tidak hanya tanaman sayur-sayuran yang dibudidaya di lahan pekarangan anggota. Tapi ada juga tanaman pangan lain seperti umbi-umbian, ikan air tawar, hingga budidaya ayam dan bebek. Sehingga di lahan pekarangan untuk kebun bibit kelompok, semuanya mencakupi kebutuhan rumah tangga.

“Selain bisa memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga dan memberi tambahan penghasilan ibu rumah tangga, juga memanfaatkan lahan pekarangan yang kosong,” ungkapnya. (ula/*)