Korban Kebakaran di Dompu Belum Dapat Perhatian Soal Perbaikan Rumah

Syamsudin, korban kebakaran hebat di Desa  Bakajaya butuh perhatian untuk perbaikan rumah, Sabtu,  31 Agustus 2019. (Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Puluhan Warga terdampak kebakaran hebat di Dusun Woro Utara Desa Bakajaya, belum mendapat perhatian serius pemerintah. Terutama berkaitan dengan perbaikan rumah mereka yang hangus terbakar. Diatapi terpal dan beralaskan tikar seadanya, mereka kini menaruh harapan besar pada pemangku kebijakan.

Salah seorang korban, Syamsudin kepada Suara NTB, Sabtu,  31 Agustus 2019 menyampaikan, selama hampir dua minggu sudah menetap ditenda darurat ini hanya bantuan logistik yang diterima. Sementara kepastian soal perbaikan rumah yang sudah rata dengan tanah belum ada sedikitpun. “Sangat kami tunggu sekarang ini soal perbaikan rumah itu saja, kalau untuk makan, minum dan pakaian bisa dikatakan melebihi,” ungkapnya.

Bantuan yang terus berdatangan dan tertampung ditenda daruarat diperkirakan cukup untuk keperluan hidup beberapa bulan kedepan. Namun, kebaikan para dermawan itu tak lantas menghilangkan bebannya sebagai kepala keluarga. Karena masih ada persoalan rumah yang harus dipikirkan.

Di tengah musibah yang membuatnya tak lagi bisa fokus mencari nafkah tersebut, Syamsudin berharap perhatian pemerintah dalam perbaikan rumahnya. “Apakah itu diberikan dalam bentuk uang atau dibangunkan langsung rumah kami akan terima. Terpenting ada buat saya dan keluarga menetap,” jelasnya.

Jika perbaikan rumah dibebankan untuk para korban selepas dikucurkannya bantuan tanggap darurat oleh BPBD, Dinsos dan pemerintah desa beberapa waktu lalu. Diakuinya akan sangat berat. Apalagi mata pencaharian utamanya hanya berladang musiman atau menanam jagung.

Pun cukup disesalkannya sampai saat ini Ialah pemerintah Desa Bakajaya belum mengambil sikap apa-apa. Minimal memastikan adanya bantuan dari anggaran yang dimiliki maupun sumber lain. “Sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan diperbaiki, baik dari desa lebih-lebih pemerintah daerah. Mereka datang hanya bawa bantuan mie instans dan kebutuhan makan lainnya,” keluh dia. (jun)