Dompu Perkuat Regulasi Konsumsi Kelor untuk Penuhi Gizi Anak

Penganan inovasi, bubur, jagung, kelor, dan ikan yang menjadi asupan makanan tambahan bagi balita di Posyandu yang diperlihatkan pada Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah dalam kunjungannya ke Dompu. (Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Kelor mulai digaungkan penggunaannya di Dompu untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral bagi anak dan balita yang stunting maupun gizi kurang. Daun kelor yang selama ini dimanfaatkan para orang tua di Dompu sebagai sayur dan disebut bisa memicu kolesterol, ternyata mengandung banyak protein, vitamin, dan anti racun.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Hj. Iris Juita Kastianti, SKM, MMKes kepada Suara NTB mengungkapkan, banyak penelitian mengungkap bahwa daun kelor sebagai superfood karena mengandung zat – zat gizi penting. Pada 100 gram daun kelor segar mengandung 92 kalori energi,6,8 gram protein, 1,7 gram lemak, 12,5 gram karbohidrat, dan 0,9 gram serat. Daun kelor juga mengandung vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, dan vitamin C. Kandungan mineralnya berupa kalsium, tembaga, zat besi, magnesium, fosfor, kalium dan seng.

Bila dibandingkan dengan pangan lain, daun kelor segar memiliki kandungan vitamin C tujuh kali lipat dibanding jeruk segar. Vitamin A empat kali lipat dibandingkan dengan wortel. Kandungan kalsiumnya tiga kali lipat dibandingkan dengan pisang. Proteinnya dua kali lipat dibandingkan yogurt. Dan zat besinya ¾ kali lipat dibandingkan dengan daun bayam.

Mengonsumsi daun kelor segar yang dijadikan sayur bening sudah menjadi kebiasaan warga. Sehingga tidak heran, pohon kelor banyak ditanam di lahan pekarangan warga selain dijadikan pagar hidup pembatas lahan. Pemahaman dan cara pengolahan yang kurang membuat sebagian warga menanggap sepele daun kelor. Bahkan dianggap sebagai daun mistis. “Sekarang kita sudah ajukan untuk dibuatkan Perkadanya agar setiap warga menanam kelor di lahannya untuk dikonsumsi sendiri,” aku Hj. Iris Juita.

Kandungan gizi pada kelor ini dinilai cukup baik untuk mengatasi masalah stunting dan gizi kurang yang dialami sebagian warga Dompu. Untuk menghasilkan gizi yang baik, saat masak sayur kelor agar menghindari penyedap rasa dan campuran jenis sayur lain. “Dimakan saat sayur kelor panas dan dicampur dengan nasi yang sudah dingin,” jelasnya.

Kelor juga dijadikan bagian inovasi untuk asupan makanan tambahan pada anak dan balita di posyandu, yaitu IBU JARI (inovasi, bubur, jagung, kelor, dan ikan). Asupan ini mudah didapat dan harganya tidak mahal, karena kelor bisa dipetik di pagar, beras juga mudah didapat, jagung juga banyak di Dompu. begitu juga dengan ikan banyak didapat karena Dompu memiliki nelayan yang banyak sebagai konsekwensi daerah pesisir. “Kita memanfaatkan potensi yang ada di sekitar kita untuk asupan makanan tambahan,”

Terkait anggapan sebagian warga bahwa menkonsumsi sayur daun kelor dapat menyebabkan asam urat dan kolesterol, dibantah Hj. Iris. Menurutnya, kelor justru dapat menetralisir kandungan racun dalam tubuh. “Justru ini (daun kelor) obatnya untuk kolesterol,” katanya.

Hj. Iris Juita Kastianti berharap, tanaman kelor dapat dibudidaya di pekarangan warga sehingga bisa memenuhi kebutuhan gizi anggota keluarga. Masyarakat Dompu pun dapat ditekan angka stuntingnya, walaupun saat ini sudah mulai dirasakan dampak untuk penurunan angka stuntingnya di Dompu. Berdasarkan data survei kesehatan dasar oleh Dinas Kesehatan Provinsi NTB tahun 2017, angka stunting di Dompu mencapai 38,34 persen dari jumlah balita dan tahun 2018 tinggal 33,8 persen. (ula/*)