Dompu Raih Kabupaten Terinovasi tahun 2019

Foto bersama saat menerima penghargaan Kabupaten terinovasi di Mataram. (Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Dompu ditetapkan sebagai kabupaten terinovasi tahun 2019 dari Provinsi NTB atas berbagai inovasi dan terobosan yang dilakukan di bidang kesehatan. Mulai dari penurunan angka stating dan STBM dengan 5 pilarnya hingga posyandu keluarga dengan pemberian makanan tambahan IBU JARI.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Hj. Iris Juita Kastianti, SKM, MMKes kepada Suara NTB di ruang kerja Bupati, Senin, 26 Agustus 2019 mengaku, penghargaan sebagai Kabupaten terinovasi ini membuat pihaknya semakin termotivasi dalam meningkatkan kinerja. Penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan pemerintah atasan terhadap terobosan yang dilakukan pihaknya untuk mempercepat penyelarasan pembangunan di bidang kesehatan masyarakat.

“Ini jadi motivasi bagi kami, semoga terobosan yang kami lakukan dapat diterima dan massif dilakukan masyarakat,” katanya.

Penghargaan yang diserahkan pada 22 Agustus 2019 lalu di Mataram ini, kata Hj. Iris Juita, terkait progres capaian penurunan angka stanting. Pada tahun 2017, angka stanting di Dompu mencapai 38,34 persen dari jumlah balita dan tahun 2018 tinggal 33,8 persen berdasarkan hasil survei kesehatan dasar Provinsi NTB. Untuk sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dengan 5 pilar, Kecamatan Pajo sudah mendeklarasaikan STBM dengan 5 pilar, dan 33 Desa/keluarahan se Kabupaten Dompu.

Baca juga:  Wagub NTB : Posyandu Harus Jadi Pusat Penyelesaian Masalah

“Kita akan terus dorong agar semua Kecamatan dan Desa di Dompu bisa menerapkan STBM dengan 5 pilarnya,” katanya.

Revitalisasi posyandu menjadi posyandu keluarga yang diterapkan Kabupaten Dompu dengan pemberian makanan tambahan IBU JARI (inovasi, bubur, jagung, kelor, dan ikan) juga menjadikan Dompu sebagai kabupatern terinovasi. Posyandu keluarga di Dompu tidak hanya mencakup semua umur dalam pelayanannya, tapi mengintegrasikan posyandu dengan jimpitan sampah menjadi kelebihannya. Dari program jimpitan sampah tersebut, 20 persen hasilnya menjadi biaya operasional posyandu dan sisanya menjadi tabungan bagi masyarakat.

Dari 400an posyandu di Kabupaten Dompu, lanjut Hj. Iris Juita, sebanyak 202 posyandu sudah direvitalisasi menjadi posyandu keluarga. Targetnya, tahun 2020 mendatang semua posyandu di Dompu akan dijadikan posyandu keluarga dan terintegrasi dengan program jimpitan sampah. “Sekarang di wilayah posyandu Kempo dari 35 posyandunya, semuanya sudah menjadi posyandu keluarga dan teringrasi dengan jimpitan sampah,” terangnya.

Hj. Iris Juita juga mengungkapkan, angka kematian ibu melahirkan tahun 2018 juga berhasil ditekan menjadi 0 kasus. Sementara untuk kematian bayi juga berhasil ditekan dari 60an kasus kematian menjadi 42 kasus di tahun 2018. “Kita terus dorong peningkatan pelayanan kesehatan ini melalui program posyandu keluarga. Makanya kita prioritaskan untuk posyandu biaya operasional kesehatan (BOK). “BOK, kita prioritaskan untuk posyandu,” ungkapnya.

Baca juga:  Wagub NTB : Posyandu Harus Jadi Pusat Penyelesaian Masalah

Posyandu keluarga terintegrasi dengan jimpitan sampah yang dilaksanakan di Dompu menjadi model posyandu nasional. Plan Internasional menjadikan program ini sebagai contoh di daerah lain dan Pemprov NTB menjadikan contoh saat pemaparan program di Kementrian Kesehatan RI.

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah secara khusus mengunjungi Dompu beberapa hari lalu untuk meninjau Posyandu keluarga Asunan Desa Doro Kobo Kecamatan Kempo dan bank sampah Doro Kobo yang dikelola Bumdes Desa Doro kobo. Pemprov juga mensuport bank sampah Doro kobo dengan mesin pelet untuk mengolah sampah makanan dan sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang menjadi pelet. Sehingga pelet yang dihasilkan bisa dijual di PLTU Jeranjang Lombok. (ula/*)